3 WNI ABK Diamond Princess Positif Covid-19 Dirawat di RS

109
0
Handover.

Updatekareba.Com, Toraja – Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan anak buah kapal Diamond Princess dikarantina karena di dalam kapal tersebut terdapat penumpang yang positif tertular Covid-19. Ada 78 WNI yang 3 orang di antaranya positif Covid-19 dan saat ini tengah dirawat di rumah sakit.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Ahmad Yurianto mengatakan dari 3 WNI tersebut seluruhnya sudah dirawat oleh otoritas kesehatan Jepang. Namun Pemerintah Jepang tidak menyebutkan nama rumah sakit yang menjadi tempat mereka dirawat.

Sudah menjadi kode etik bersama bahwa Pemerintah Jepang tidak akan pernah mengumumkan RS apa. Ini menjadi penting, sama dengan Indonesia juga tidak akan mengumumkan RS apa, jangan sampai menimbulkan kegelisahan bagi pengguna jasa RS yang lain.

“Ini jadi etika untuk tidak menyebut RS nya dimana dan tidak menyebutkan nama pasiennya siapa. Ini etika,” kata dr. Achmad Yurianto di JI EXPO Kemayoran, Rabu (19/2).

Kondisi 3 WNI tersebut sepenuhnya dilayani oleh Pemerintah Jepang. Dr. Ahmad mengatakan kondisi mereka stabil dan pemerintah Indonesia tidak meragukan kapasitas yang dimiliki oleh otoritas Jepang untuk melakukan layanan bagi WNI.

Sisanya, yakni 75 WNI tetap masih menjalankan masa karantina. Masa karantina yang dilakukan Pemerintah Jepang beda dengan karantina yang dilakukan di Indonesia.

“Beda di dalam kaitan mempublikasikan tempatnya. Kalau Jepang hanya mengatakan dikarantina di suatu tempat, kalau karantina di Indonesia dipublikasikan nama lokasi yang menjadi tempat karantina,” ucap dr. Achmad.

Masa Karantina WNI di Kapal Diamond Princess Diperpanjang

Masa karantina penumpang Kapal Pesiar Diamond Princess termasuk di dalamnya warga negara Indonesia (WNI) diperpanjang. Pasalnya setiap ada penumpang positif Covid-19 masa karantina terus diperpanjang.

“Kita (Pemerintah Indonesia) tidak akan memaksa Pemerintah Jepang masa karantinanya 14 hari, karena penumpang yang positif Covid-19 terus bertambah,” kata Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes dr. Achmad Yurianto, Rabu (19/2) di JI EXPO Kemayoran, Jakarta.

Jika mengacu kepada pedoman WHO, sebenarnya inkubasi itu selama 1 hingga 14 hari. Tapi beberapa riset terakhir yang dilakukan para pakar di Tiongkok mengatakan kalau ingin aman masa observasi dilakukan selama 1 hingga 24 hari.

“WNI kita sakit (positif Covid-19) di hari ke 10 karantina. Berarti masa karantina diperpanjang hingga 14 hari berikutnya. Nah yang kita takutkan adalah kemudian ada penularan yang berkesinambungan,” kata dr. Achmad.

Di Indonesia masa observasi atau karantina dilakukan selama 14 hari. Setelah itu dilanjutkan surveilans tracking oleh Pemerintah Daerah pada 14 hari berikutnya.

Surveilans tracking adalah melakukan pemantauan bukan hanya untuk WNI yang diobservasi tapi juga untuk kontak dengan orang terdekatnya dalam keluarga. Kegiatan ini disebut juga sebagai surveilans aktif.

Situasi di Indonesia

Hingga saat ini spesimen dari pasien dalam pengawasan yang sudah diterima Lab Litbangkes berjumlah 112 berasal dari 41 rumah sakit di 21 provinsi, yakni DKI 29, Bali 16, Jawa Tengah 10, Kepulauan Riau 10, Jawa Barat 8, Jawa Timur 10, Banten 5, Sulawesi Utara 6, DIY 3, Kalimantan Timur 3, Sulawesi Selatan 2, Jambi 1, Papua Barat 1, NTB 1, Bengkulu 1, Kalimantan Barat 1, Kalimantan Tengah 1, Sulawesi Tenggara 1, Maluku 1, Sumatera Barat 1, dan Bangka Belitung 1.

Hasil pemeriksaan menujukkan 110 spesimen dari pasien dalam pengawasan negatif, 2 masih proses pemeriksaan. Hingga saat ini belum ada kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dari hasil pemeriksaan dari seluruh wilayah Indonesia.(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here