Ada Potensi KLB Jika Cakupan Imunisasi Turun saat Pandemi

136
0
Gedung Kemenkes RI.

Updatekareba.Com, Jakarta – Ketua Hubungan Masyarakat (Humas) dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. DR. Dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) mengatakan sekitar dua sampai tiga juta kematian anak di Indonesia bisa dicegah dengan imunisasi.

Prof. Hartono mengatakan bahwa potensi kejadian luar biasa (KLB) karena COVID-19 bisa terjadi karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat kemudian orang tua khawatir terjangkit COVID-19.

“Hal tersebut menyebabkan cakupan imunisasi menurun dan akan berpotensi terjadinya KLB penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,” kata Prof. Hartono saat Webinar Pekan Imunisasi Dunia, Sabtu (8/5/2021) yang disiarkan di Youtube Kementerian Kesehatan.

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain kanker hati dengan vaksin Hepatitis B (HB), tuberkulosis dengan vaksin BCG, polio dengan vaksin Polio, campak rubella dengan vaksin MR, difteri, pertusis, dan tetanus dengan vaksin DPT.

Lanjutnya, penyakit lainnya adalah Hemophilus Influenzae Tipe B (HiB), penyakit ini menyebabkan radang kulit yang berat kemudian menyebabkan infeksi di dalam darah yang disebut sepsis sehingga anak bisa mengalami sakit berat dan bisa meninggal.

Prof. Hartono mengatakan penyakit ini juga menyebabkan radang paru-paru atau pneumonia. Penyakit-penyakit itu bisa dicegah dengan vaksin HiB yang terdapat dalam vaksin pentavalen atau yang dikenal dengan pentabio.

KLB di masa pandemi COVID-19 terjadi di negara tetangga Indonesia antara lain KLB Difteri di Vietnam dengan 198 kasus hingga Oktober 2020. Selain itu KLB Difteri juga di Negara Bagian Shan, Myanmar dengan 36 kasus hingga Juli 2020.

“Sedangkan Indonesia, dari laporan Kementerian Kesehatan pada April 2020 sekitar 84 persen layanan fasilitas kesehatan terganggu termasuk imunisasi. Kemudian lebih dari 3/4 orang tua takut membawa anaknya untuk diimunisasi karena COVID-19,” kata Prof. Hartono.

Sementara Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan perlu partisipasi aktif dalam melakukan vaksinasi di masa pandemi COVID-19.

Saat Webinar Pekan Imunisasi Dunia, Sabtu (8/5/2021) yang disiarkan di Youtube Kementerian Kesehatan, Menkes Budi mengatakan sangat mendukung program vaksinasi sebagai salah satu program utama di sektor promotif dan preventif.

“Saya berharap melalui program imunisasi bisa menciptakan anak-anak muda yang jauh lebih sehat, bisa mengurangi tingkat kematian ibu dan bayi, dan mengurangi tingkat kematian wanita karena kanker serviks,” kata Menkes Budi.

Berikut adalah imunisasi lengkap yang harus didapatkan oleh anak sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 2017.

Imunisasi untuk anak umur 0-18 bulan antara lain segera setelah lahir yaitu Hepatitis B 0. Usia 1 bulan BCG (tuberkulosis) + bOPV 0, usia 2 bulan Pentavalent 1 + bOPV 1, usia 3 bulan, Pentavalent 2 + bOPV 2. Usia 4 bulan Pentavalent 3 + bOPV 3 + IPV (polio suntik), usia 9 bulan MR 1 (campak rubella) dan usia 18 bulan Pentavalent 4 + MR 2.

Selain itu dapat juga ditambah dengan imunisasi pada usia 2 bulan PCV1, usia 4 bulan PCV2, usia 6 bulan PCV3 + Influenza 1, usia 7 bulan, Influenza 2. Sedangkan untuk video tadi kan 12-15 bulan PCV4.

Imunisasi untuk anak umur >18 bulan yakin usia 6-7 tahun (sekolah dasar (SD) kelas 1 DT atau Td (difteri, tetanus) + MR, usia 7-8 tahun, usia SD kelas 2) Td, usia 11 tahun (SD kelas 5), Td dan HPV I (untuk provinsi tertentu). Sedangkan usia 12 tahun (SD kelas 6) HPV II (untuk provinsi tertentu).

“Perlu partisipasi aktif dalam melakukan vaksinasi di masa pandemi COVID-19. Karena melakukan vaksinasi bukan pekerjaan mudah apalagi harus dilakukan di seluruh Indonesia dengan keragaman budaya dan geografi yang berbeda,” kata Menkes Budi.(*/UK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here