Apakah Pilkada 2020 akan membawah perubahan kearah yang lebih baik bagi Masyarakat Toraja ?

1425
0
Ilustrasi

Updatekareba.Com, Toraja – Artikel ini saya tulis sebagai respon, setelah menerima sekian banyak pesan baik melalui FB maupun WA yang mempertanyakan masalah uang untuk jual beli suara. Beberapa dari pesan tersebut berbunyi seperti ini :
– ” Boss, apakah betul Rindu sudah buang handuk ?”;
– ” Mengapa Rindu belum menghamburkan amunisinya ?”
– ” Jaman Now, tak mungkin menang tanpa BLT”
dan masih banyak lagi pesan-pesan yang bunyinya senada dengan ketiga pesan diatas. Sementara di sosial media juga beredar sekian banyak postingan yang menyatakan salah satu paslon telah Buang Handuk karena tak memiliki Dana untuk melakukan Money Politik.

Pesan dan postingan-postingan diatas tentu sangat mengusik dan merisaukan kita. Mengusik karena hal-hal yang sangat tabu/memalukan sudah dibicarakan secara vulgar diruang publik. Merisaukan karena menyangkut eksistensi kita sebagai suatu etnis yang dulu identik dengan Pekerja Keras dan Jujur. Mau jadi apa generasi muda kita bila pemimpinnya dihasilkan dari sutu proses yang Korup dan kotor ?.

Telah beredar juga Video dari seseorang yang diduga Ketua Generasi Millenial salah satupaslon, yang mempertontonkan setas uang sambil menghimbau pendukung paslon lain agar bergabung dengan mereka. Mungkin saja video tersebut dia buat untuk sekedar lucu-lucuan atau mengejek tim lain. Tapi masalahnya adalah divideo tersebut ada setas kresek uang, tak mungkin anak seusia itu bisa memiliki uang cash sebanyak itu. Lalu untuk apa uang itu ?. Kita semua tentu berharap, semoga anak itu bukanlah representasi kualitas generasi millenial kita, sebab bila dia adalah representasi maka eksistensi kita terancam, minimal satu generasi telah rusak.

Istilah “Buang Handuk” yang kemudian dipasangkan dengan kalimat “money politik di Pilkada”, sunggulah penghinaan bagi moralitas dan intelektualitas kita. Buang handuk yang diartikan menyerah karena tak mau mengeluarkan uang untuk jual-beli suara pemilih, di dendangkan secara massive di dunia maya sang torayaan, seolah-olah Money Politik sudah jadi bagian yang legal bahkan Ritual pokok pilkada kita.

Sekian lama saya meluangkan waktu untuk ikut aktif berdiskusi disosmed sang torayaan, harapannya, apa yang saya tuliskan kiranya bisa memberi dampak lebih baik. Opini, informasi, bahkan kadang hasil investigasi saya paparkan di sosmed dengan tujuan menggugah kita untuk menyadari kondisi kekinian kita, sehingga timbul kesadaran bersama untuk melakukan pilkada/pilcaleg secara jujur.

Saya tetap percaya didalam masyarakat kita masih banyak yang teguh memegang nilai-nilai kejujuran, bahkan mungkin jumlah masih lebih banyak dari PECINTA Money politik. Tapi apalah artinya bila orang jujur diam saja, tak melakukan perlawanan. Ingat, kaum yang bekerjalah yang akan menang, sementara yang diam akan semakin tergusur hingga kalah. Kesalahan yang terus-menerus disuarakan, suatu saat akan diterima sebagai kebenaran. Memulai kejujuran dari diri sendiri memang sangat perlu, tetapi bila tidak dikampanyekan jadi gerakan bersama juga tak akan berdampak banyak.

Tak terasa sudah hampir 20 tahun kita hidup dalam Pilkada/pilcaleg dengan praktek jual-beli suara yang massive. Kita sudah merasakan dampak negatif, bahkan kerusakan yang ditimbulkannya berlangsung secara Sistematis. Yang paling parah adalah rusaknya moral generasi muda kita, tak perlu lagi diurai untuk pembuktiannya sebab sangat nampak secara kasat mata. 20 tahun adalah waktu yang lebih dari sekedar cukup untuk membentuk karakter dan “moral yang baru”, Millenial yang memamerkan uang sekresek diatas adalah salah satu contoh produk dari sistem yang korup yang berawal dari pilkada/pilcaleg kotor.

Masa 20 tahun itu berlangsung bagai proses yang digambarkan seperti Katak dalam wajan yang penuh dengan air, lalu diletakkan diatas tungku yang apinya kecil, Temperatur meningkat sangat lambat. Pada tahap awal sikatak masih mampu beradaptasi dengan peningkatan temperatur yang kecil. tetapi karena berlangsung secara kontinu, maka pada suatu titik, Katak tak mampu lagi bertahan, tewas tanpa sempat lagi melompat keluar dari wajan. Tentu kita tak mau seperti Katak tersebut, manfaatkan momen pilkada ini untuk melompat keluar dari sistim yang korup. Kita jangn pula larut dalam debat mencari siapa yang memulai money politik ini, kelompok mana yang memulainya, semua itu hanyalah membuang waktu. Yang kita perlukan sekarang adalah kesadaran bersama untuk meninggalkan cara kotor tersebut, Buang baju usang nan bernoda itu.
Kriteria Kecerdasan (pendidikan) dalam memilih pemimpin tidak cukup, Kecerdasan ini haruslah beriringan dengan kejujuran (Integritas). Masyaralat Toraja Utara dan Tana Toraja haruslah kembali ke karakter asli kita sebagai suku yang JUJUR dan PEKERJA KERAS, jangan memilih pasangan Cabup/cawabup yang melakukan Money Politik. Selamatkan generasi muda kita.(*)

(*): Sandabunga (Anonym), adalah PhD Candidate di Tokyo University

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here