Cerita RSUD Lakipadada Siasati APD Petugas Medis Corona (Covid-19)

217
0
Pihak RSUD Lakipadada membuat sendiri camber disinfektan.

Updatekareba.Com, Toraja – Rumah sakit rujukan untuk penanganan virus corona mulai mengalami kelangkaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sangat dibutuhkan oleh petugas kesehatan. Untuk menyiasati kelangkaan, banyak petugas medis yang memakai APD hingga pulang kerja.

APD merupakan keseluruhan alat kesehatan yang berguna melindungi petugas medis dari virus dan bakteri, mencakup sarung tangan, masker bedah, masker n95 dan face shield, kacamata goggle, coverall jumpsuit (baju pelindung), hingga cover sepatu.

Salah satu rumah sakit yang hampir kehabisan stok APD adalah RSUP Lakipadada, Tana Toraja.

Direktur RSUD Lakipadada, dr. Safari Manopo mengatakan, pihak rumah sakit harus melakukan penghematan APD karena jumlahnya yang menipis.

Stok masker, baju pelindung, dan face shield akhirnya digunakan secara efisien.

“APD kita ngirit, karena terbatas banget jumlahnya,” ujar dr. Safari Manopo, Jumat (3/4/2020).

RSUD Lakipadada merupakan salah satu rumah sakit rujukan untuk virus corona di Sulawesi Selatan. Oleh karenanya, rumah sakit tersebut selalu kedatangan pasien yang ingin memeriksakan kondisi tubuhnya.

dr. Safari mengatakan, karena pasien terus berdatangan, banyak petugas medis yang terus menggunakan APD. Padahal satu kali pakai APD mestinya hanya untuk satu pasien.

“Mereka pakai APD hingga pulang atau pergantian shift kerja, padahal itu kan panas sekali,” kata dr. Safari.

APD hasil buatan staf RSUD Lakipadada.

Karena itu, pihak rumah sakit rujukan ini harus memutar otak mencari cara lain mengatasi hal tersebut. Selain membuat sendiri, alternatifnya juga mengalihkan penggunaan APD di kasus lain untuk kasus yang kondisinya lebih penting seperti Covid-19 ini.

“Untuk APD, rumah sakit memang mengalami kesulitan terkait keberadaannya. Makanya, beberapa alternatif sudah kami coba lakukan,” katanya.

Dirut RSUD ini mengaku sudah mengalihkannya dan memprioritaskan APD untuk kasus-kasus yang lebih urgen dan menurutnya paling emergency untuk segera ditangani.

“Kasus-kasus yang memang bisa kita ditunda, kita tunda dulu. Sehingga, APD-nya nanti bisa kita manfaatkan untuk kepentingan yang lebih urgen tadi,” ujar dokter specialis penyakit dalam ini.

Kedua, membuat APD sendiri dengan menjahitnya dan bekerja sama dengan rekanan. Tentunya dengan menggunakan bahan yang memenuhi standar kesehatan yang ada dalam menangani kasus Covid-19 ini.

“Dengan bahan apapun kami akan mencoba buat sendiri. Apabila nantinya memang betul-betul kesulitan. Namun, kendalanya saat ini adalah kelangkaan bahan yang sesuai standar kesehatan dalam membuat APD. Kalaupun ada, harganya selangit dibandingkan harga normalnya,” ungkapnya.

“Kami bukannya tidak siap (membelinya). Tapi belinya di mana. Stok tidak ada, itu yang membuat kami kesulitan,” ungkapnya.

Sebelum itu, dia mengatakan pihaknya juga secara rutin melakukan laporan dan permintaan ketersediaan APD dan sarana prasarana lainnya kepada Kemenkes RI.

“Kita laporan khusus ke sana. Dan Kemenkes sudah meminta laporannya secara berkala terkait keberadaan APD atau sarana prasana yang digunakan untuk pasien dan tenaga medis di sini,” tuturnya.

Dan untuk saat ini, ketersediaan APD dan sarana prasarana di ruang isolasi RSUD Lakipadada masih tercukupi. Namun, itu tidak bisa jadi patokan melihat begitu cepat dan banyaknya yang sakit.

“Apalagi sekarang pannic buying APD, terutama masker itu yang membuat kami kesulitan. Tapi, (APD) untuk tenaga medis dan sarana prasarana yang ada di ruang isolasi masih tercukupi,” terangnya.

Pihak RSUD Lakipadada juga membuat sendiri camber disinfektan memanfaatkan barang – berang bekas yang tidak dipakai lagi.(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here