Cerita Tahun Tanpa Mudik Era Pascakemerdekaan

165
0
Petugas Kepolisian melakukan memutarbalikkan pemudik motor yang akan melintas di posko penyekatan mudik di Kedungwaringin, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Minggu (9/5/2021). Pada H-3 jelang Hari Raya Idul Fitri 1422 H petugas gabungan dari TNI,Polri,Dishub dan Satpol PP memperketat penjagaan pemudik di perbatasan Kabupaten Bekasi dan Karawang. ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.

Updatekareba.Com, Toraja – Leonardo tampak membawa sejumlah barang. Ada koper, kardus, dan beberapa barang lainnya. Di terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, pria 32 tahun ini sedang menunggu bus yang akan ditumpanginya bersama istrinya. Ahad (2/5/2021) itu mereka akan mudik ke kampung halamannya, Pagar Alam, Sumatra Selatan.

Leonardo tak bisa menahan rindu bertemu ibunya pada lebaran kali ini. “Sudah tiga tahun ini saya enggak berjumpa ibu. Terakhir 2018,” kata dia.

Kenekatannya mudik itu karena kantornya juga menerapkan work from home (WFH) selama pandemi COVID-19 ini. Sehingga meski ia mudik kerja di manapun masih tetap bisa dilakukan. “Yang penting kerjaan beres,” katanya.

Pria yang bekerja di sebuah lembaga politik ini sengaja mudik lebih awal sebelum larangan mudik diberlakukan pada 6-17 Mei 2021. Rencananya, ia akan kembali lagi ke Jakarta, setelah pemerintah mencabut larangan mudik itu.

Leonardo hanyalah salah satu dari sekian banyak orang yang melakukan siasat agar bisa mudik. Bahkan dalam pekan ini, saat larangan mudik diberlakukan, ratusan ribu orang nekat melakukan mudik ke kampung halaman.

Mudik memang sudah menjadi tradisi bagi umat Muslim yang selama ini keluar dari daerahnya untuk mencari peruntungan di rantau.

Menurut Dosen sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Silverio Raden Lilik Aji Sampurno, mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam.

Mudik bermula dari kekuasaan Majapahit yang luas. Kala itu kekuasaan Majapahit ini hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Untuk menjaga wilayah kekuasaannya yang luas, sang raja menempatkan pejabat di berbagai daerah.

Suatu waktu, pejabat-pejabat itu pulang untuk menghadap raja dan mengunjungi kampung halaman.

Tradisi itu juga terjadi saat Mataram Islam berkuasa. Saat Mataram Islam, para pejabat pulang secara khusus ketika Idulfitri tiba.

Kedua hal itulah yang menjadi cikal bakal tradisi mudik di Indonesia.

Ketika zaman kolonial Belanda, menurut sejarawan Universitas Indonesia, JJ Rizal, aktivitas mudik juga terjadi. Saat itu pemerintah Belanda banyak mendatangkan pekerja dari luar Batavia. Ketika lebaran tiba, biasanya pekerja Muslim selalu melakukan aktivitas mudik.

Bukan yang Pertama

Tak adanya mudik lebaran seperti tahun 2020 dan 2021 ini bukanlah yang pertama. Tidak adanya mudik pernah terjadi pascakemerdekaan. Kala itu lebaran jatuh pada 28 Agustus 1946.

Karena kondisi politik dalam negeri yang masih belum stabil, umat Muslim tak melakukan perjalanan mudik. Kondisi Indonesia yang baru umur satu tahun itu banyak menghadapi kesulitan.

Belanda dan Inggris menguasai kota-kota penting di Jawa. Di beberapa tempat, perayaan hari ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia yang berlangsung sebelas hari sebelum lebaran tahun 1946 pun dilakukan sangat sederhana.

Keretakan juga sedang terjadi di tubuh pemerintah dan masyarakat Indonesia. Hal itu tampak dalam krisis politik 3 Juli 1946 di Yogyakarta, saat kelompok oposisi yang berafiliasi dengan Tan Malaka melancarkan percobaan kudeta terhadap pemerintahan Perdana Menteri Sjahrir dan adanya Konferensi Malino (16-25 Juli 1946) yang diselenggarakan Belanda untuk menarik dukungan para raja lokal di Indonesia Timur.

Tepat perayaan lebaran itu, barisan rakyat berjuang keras melawan pasuka-pasukan NICA di Desa Cibeber, Bogor, Jawa Barat. Tak hanya di Cibeber, pertempuran juga terjadi di beberapa wilayah Indonesia lainnya.

Kini, sejak tahun lalu, umat Muslim memang tak bisa mudik karena pandemi COVID-19. Dan pada tahun ini pemerintah memang dengan tegas melarang mereka yang ada di rantau untuk mudik. Maksudnya, agar pandemi COVID-19 yang masih terjadi ini bisa dikendalikan.

Dengan tidak mudik, berarti kita turut menjaga dan melindungi keluarga. Selain itu, merayakan lebaran bersama keluarga juga masih bisa dilakukan secara virtual dari mana saja.

Istilah Mudik

Istilah mudik sendiri baru menjadi tren pada tahun 1970an. Istilah itu mengacu pada tradisi orang-orang rantau yang kembali ke kampung halamannya untuk berkumpul bersama keluarga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), mudik memiliki arti “ke udik” serta “pulang ke kampung halaman”.

Menurut JJ. Rizal, mudik berasal dari kata udik yang berarti kembali ke titik awal mula aliran sungai alias di hulu, letaknya di desa yang jauh dari hilir di Batavia. Istilah ini kemudian berkembang seiring dengan banyak kaum pekerja atau buruh yang berasal dari luar daerah.

Meningkatnya aktivitas mudik dimulai pada era Orde Baru, terutama saat periode Gubernur Jakarta Ali Sadikin (1966-1977).(**/UK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here