Dampak buruk perubahan iklim di Indonesia

239
0

Updatekareba.Com, Makassar – Kuliah umum Prof Rachmat mengambil tema “Peran Universitas Dalam Mempercepat Aksi Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim” berlangsung di Aula Prof Dr. Ir. Fachrudin, Gedung Sekolah Pascasarjana Unhas, Kamis (21/2/2019) siang.

Kuliah diikuti puluhan dosen dan mahasiswa Sekolah Pascasarjana Unhas. Acara tersebut dihadiri sekaligus dibuka oleh Dekan Sekolah Pascasarjana Unhas, Prof. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., Ph.D. Kuliah umum dipandu oleh Rijal Idrul, M.Sc., Ph.D., dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan.

Prof Jamaluddin mengungkapkan masalah perubahan iklim sudah menjadi masalah besar. Beberapa waktu lalu, suhu di bagian daerah Utara mencapai minus 50 derajat celcius, kemudian di bagian Selatan mencapai 40 derajat, malah 45 derajat. Fenomena ini tentu masalah yang besar bagi kita semua.

Data Global Risk Assesmen 2019 dari World Economic Forum menyebutkan, upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim mengalami kegagalan. Hal itu ditandai dengan terjadinya peristiwa cuaca ekstrem, krisis pangan dan air, hilangnya keanekaragaman hayati, dan rusaknya ekosistem.

Di Indonesia, selama bertahun-tahun, peristiwa bencana yang terjadi dominan bersifat hidro-meteorologi, seperti banjir;  kekeringan; cuaca ekstrem; dan kebakaran lahan. Ini menyebabkan kerugian ekonomi yang tinggi, mengurangi kualitas hidup, dan merusak lingkungan,“ ujar Prof Rachmat.

Persoalan tersebut merupakan akibat dari berbagai kegiatan manusia sendiri yang menimbulkan emisi gas rumahkaca, seperti penggunaan lahan, alih fungsi lahan, eksploitasi hutan, penggunaan energi dan transportasi berbahan fosil, aktivitas industri, manajemen sampah yang buruk, dan lainnya.

Unhas diminta berperane dalam menghadapi perubahan iklim

Prof Rachmat berharap Unhas dapat memainkan peran yang strategis dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Sebab, Unhas memiliki sumber daya manusia yang kuat, dan program studi yang terkait dengan perubahan iklim.

“Karena itu, saya berbicara dengan Pak Dekan agar Unhas dijadikan hub, pusat daripada intelektual dan pengkajian mitigasi perubahan iklim di Indonesia Timur,” ungkapnya.

Kuliah umum tersebut diisi dengan sesi tanya jawab untuk berdiskusi secara langsung dengan narasumber. Sesi tersebut semakin memberikan pemahaman dan tambahan pengetahuan bagi peserta kuliah umum.

Kegiatan ilmiah di Sekolah Pascasarjana Unhas  ini juga diharapkan bisa berkelanjutan dengan menghadirkan pembicara berbeda yang ahli dalam bidangnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here