Enam Bulan Pasca Tsunami Palu, 6.000 Anak Masih Tinggal di Pengungsian.

401
0
Handover

Updatekareba.com, Palu – Enam bulan pasca bencana, para korban gempa dan tsunami Palu belum pulih dari dukanya.

Menurut laporan Save the Children (Yayasan Sayangi Tunas Cilik/STC) sampai sekarang masih ada sekitar 6.000 anak yang terpaksa tinggal di pengungsian.

“Saat puluhan ribu orang sudah bisa dijangkau, enam bulan setelah bencana ini kami masih sangat khawatir dengan kondisi 6.000 anak yang masih tinggal di hunian sementara seperti tenda, serta ribuan lainnya yang tinggal di rumah-rumah rusak. Hunian sementara ini memiliki kondisi sangat seadanya — tenda-tenda atau rumah-rumah sementara — dan juga kerap tidak berlantai, sehingga akan banjir ketika hujan,” kata Tom Howells, Response Team Leader STC dalam rilisan persnya (26/3/2019).

Menurut STC, masih ada banyak tumpukan puing-puing tajam di lingkungan pengungsian sehingga membahayakan ribuan anak yang tinggal di sana.

Sistem sanitasi pengungsian yang buruk juga membuat anak-anak berisiko terkena penyakit seperti diare, pneumonia dan demam berdarah.

Tom Howells menilai bahwa masyarakat korban gempa Palu masih membutuhkan pertolongan dalam jumlah besar.

“Gempa susulan masih terasa, enam bulan berjalan dan kita masih bisa melihat di lapangan bahwa bencana ini sangat menekan dan merapuhkan anak-anak dan orang dewasa. Namun, dana sudah mulai mengering, dan kami memanggil komunitas internasional untuk merogoh lebih dalam lagi dukungan terhadap upaya-upaya penanganan guna menolong para keluarga tersisa untuk bisa bangkit kembali,” ujar Howells dalam rilisan pers STC (26/3/2019).

Tanggal 28 September 2018 lalu Sulawesi Tengah diguncang gempa berkekuatan sekitar 7,7 SR.

Gempa ini kemudian memicu gelombang tsunami dan menimbulkan kerusakan besar di Kota Palu dan Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Gempa yang sama juga memicu likuifaksi (pencairan tanah) di berbagai wilayah di sekitarnya.

Menurut laporan BNPB per 20 Oktober 2018, bencana ini mengakibatkan sekitar 2.113 orang meninggal dunia, 1.309 hilang, 4.612 luka-luka, dan lebih dari 60.000 bangunan rusak.

Menurut perhitungan BNPB per 27 Oktober 2018, nilai total kerusakan akibat bencana ini mencapai sekitar Rp 18,4 triliun, dengan kerusakan terbesar di sektor pemukiman warga.
(***)

(***) ; Adi Ahdiat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here