Event Budaya 2019 di Tana Toraja Dimulai, Tiga Ritual Atau Aluk Todolo Sebagai Pembuka

88
0
Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae.

Updatekareba.Com, Toraja – Menyambut Hari Jadi Toraja ke – 772 dan HUT Kabupaten Toraja Utara ke – 62 dimulai dengan tiga ritual atau aluk yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja dan Masyarakat, Kamis (22/8/2019)

Diawali dengan Ritual adat Pare dan Ma’ Lambuk di Lembang Saluallo, Kecamatan Sangalla, Kabupaten Tana Toraja.

Pada Ritual Pare dan Ma’ Lambuk ini Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae ikyt serta bersama masyarakat di Lembang Saluallo ini.

Ritual Pare merupakan prosesi dimana masyarakat Toraja melakukan penen raya di sawah secara bersama – sama, dan dilanjutkan Ritual Ma’lambuk dimana padi hasil panen di tumbuk di issong (lesung)

Nampak Bupati Tana Toraja, Nikodemus Biringkanae hadir di kegiatan tersebut dengan busana balutan khas Toraja ikut serta dalam ritual adat ini bersama sejumlah kepala Organisaai Pimpinan Daerah (OPD) Tana Toraja.

Dan ritual adat ketiga sebagai pembuka event Budaya Toraja ini yaknu Ritual Tradisional Aluk Todolo, Manta’da yang digelar di Kelurahan Tambunan, Kecamatan Makale Utara, Kabupaten Tana Toraja.

Pembukaan pekan Budaya Toraja di Kabupaten Tana Toraja, SulSel, Kamis (22/8/2019).

Dari informasi yang dihimpun redaksi Updatekareba.Com, ketiga ritual ini merupakan ritual adat dari agama lokal Toraja yakni ALUK TODOLO.

Pemkab Tana Toraja melalui Dinas Kebudayaan Tana Toraja untuk tahun 2019 kembali mengangkat ritual dari aluk Todolo sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat Toraja.

Aluk Todolo adalah agama suku yang dianut oleh masyarakat Toraja jaman dahulu. Ajaran-ajaran dan ritual agama suku ini yang banyak mempengaruhi kehidupan masyarakat Toraja hingga saat ini. Saat ini, penganut Aluk Todolo sudah sangat sulit ditemui. Ajaran-ajaran dan ritual agama suku ini kemudian semakin memudar dan mulai terlupakan.

Aluk Todolo adalah kepercayaan masyarakat Mamasa sebelum masuknya agama sesawi di Tana Toraja. Dalam kepercayaan Aluk Todolo, penguasa tertinggi adalah Puang Matua, artinya Tuhan Maha Mulia. Ajaran Aluk Todolo menekankan pada pentingnya kebenaran dan kejujuran.

Pembukaan pekan Budaya Toraja di Kabupaten Tana Toraja, SulSel, Kamis (22/8/2019).

Ritual ini dapat memberikan gambaran seperti apa ajaran Aluk Todolo dan ritual-ritual yang dilakukan oleh penganutnya. Untuk dapat menghadiri ritual ini ada beberapa poin penting yang harus diperhatikan.

Diantaranya tidak mengenakan pakaian berwarna gelap. Tidak diperkenankan makan dan minum selama upacara kecuali sudah dipersilahkan oleh ketua adat. Membawa sirih pinang sebagai persembahan.

Penting untuk memperhatikan aturan ritual tersebut karena ritual Aluk Todolo memiliki pantangan tersendiri yang patut kita hormati. Mari kita tumbuhkan toleransi kita dalam menghadiri ritual ini.

Suku Toraja adalah  suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, Indonesia. Mereka tinggal di Kabupaten Tana Toraja, Kabupaten Toraja Utara, dan Kabupaten Mamasa. Mayoritas suku Toraja memeluk agama Aluk To Dolo (Hindu), namun saat ini kebanyakan masyarakatnya sudah berali keagama Kristen. Sementara sebagian menganut Islam.

Suku Toraja terkenal akan ritual pemakaman, rumah adat tongkonan dan ukiran kayunya. Ritual pemakaman Toraja merupakan peristiwa sosial yang penting, biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Kepercayaan mereka diturunkan secara lisan, turun-temurun, dan mengikat kehidupan sehari-hari. Namun, warga mematuhi aturan itu dan rela menjalani hukuman jika ketahuan melanggar. Penganut Aluk Todolo wajib menyembah dan memuliakan leluhurnya yang diwujudkan dalam berbagai bentuk dan sikap hidup serta ungkapan ritual.

Penganut Aluk Todolo relatif terbuka terhadap modernisasi dan dunia luar. Mereka meyakini, aturan yang dibuat leluhurnya akan memberikan rasa aman, mendamaikan, menyejahterakan, serta memberi kemakmuran warga.

Penganut Aluk Todolo menjunjung tinggi kebenaran dan kejujuran. Mereka begitu tegas menerapkan aturan leluhur.

Jika ada warga yang melakukan hal yang diluar aturan, maka mereka akan diberi sangsi. Bila ada warga yang melakukan hal yang melanggar adat maka biasanya mendapatkan malapetaka, misalnya gagal panen.

Penegakan aturan itu begitu ketat dalam pelaksanaan pa’tomatean. Saat acara pa’tomatean biasanya keluarga dari orang yang meninggal tidak boleh memakan nasi, melainkan makanan yang terbuat dari ubi atau jagung.

Pa’tomatean merupakan hal yang sangat penting untuk dihadiri bagi keluarga yang masih menganut Aluk Todolo. Biasanya Bila ada keluarga yang tidak sempat datang keacara tersebut akan melakukan acara tersendiri dirumahnya.

Aluk Todolo memiliki hari suci tertentu, hampir setiap daerah memiliki tradisi tersendiri dalam melakukan penyembahan kepada Dewata (Tuhan).

Pembukaan pekan Budaya Toraja di Kabupaten Tana Toraja, SulSel, Kamis (22/8/2019).

Indonesia sungguh merupakan negara yang kaya akan budaya. Warisan budaya Indonesia tidak hanya dituangkan dalam bentuk tarian, busana, bahasa, dan perangkat adat, tapi juga dalam bentuk aturan hidup yang diwariskan secara lisan.

Aluk Todolo mengatur segi kehidupan, seperti pertanian dan ritual keagamaan. Aluk Todolo mengajarkan hari-hari baik dan buruk, penyebab bencana ketika berpergian, kapan dan bagaimana menanam padi, serta tata cara ritual ibadah. Selain itu, kebiasaan saling tolong menolong terutama ketika pesta juga diajarkan.

Tiap desa memiliki detail Aluk Todolo yang berbeda-beda. Tapi semuanya menekankan pentingnya memisahkan antara ritual kehidupan dan ritual kematian.

Simbol-simbol Aluk Todolo terlihat dari bentuk rumah orang Toraja yang menyerupai perahu dan semuanya mengarah ke utara. Menurut kisah turun-temurun, leluhur mereka berasal dari laut di sebelah utara Kamboja.

Selain itu, symbol lain yang terkenal adalah banteng yang melambangkan kesuburan. Sampai saat ini symbol-simbol ini masih dipelihara, bahkan menjadi tujuan utama para turis baik dari dalam maupun luar negeri.

Aluk Todolo yang juga merupakan warisan budaya bangsa layak untuk dikenal dan dipertahankan. Mari kita melihat dan menjaga berbagai kekayaan budaya Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here