Film “Pongtiku” Lounching ; Belajar tentang Kepahlawanan dan Pelestarian Budaya dari Film Dokumenter

223
0
Handover.

Updatekareba.Com, Toraja – Kemerdekaan Republik Indonesia bukan hadiah dari bangsa lain. Kemerdekaan negara kita diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan, para pejuang telah mengorbankan harta dan bahkan nyawa mereka untuk melepaskan bangsa Indonesia dari penjajah.

Tidak terhitung para pahlawan yang mati syahid demi meraih cita-cita mulia, bangsa Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan. Inilah pesan dari film dokumenter “PONGTIKU”, sosok pahlawan nasional dari Toraja yang mengajarkan kepada kita semua bahwa kita sebagai bangsa harus memiliki harga diri dan kehormatan. Di hadapan serdadu Belanda, Pongtiku mengatakan “saya sekali dilahirkan sekali mati, dari ujung rambut di Kepala sampai ujung kuku dikaki, saya tidak mau tunduk terhadap mata mabusa”.

Pongtiku adalah pahlawan yang telah memberikan keteladanan bersikap gigih dan rela berkorban demi meraih dan menjaga harga diri serta kehormatan bangsa Indonesia.

Film dokumenter yang digarap Yayasan Kreatif Toraja bekerja sama dengan Direktorat Kebudayaan Kemendikbud RI melaounching Film Pongtiku di Toraja Heritage Hotel, Selasa (3/12/2019)

“Melalui penayangan dan apresiasi film dokumenter ini, kami berharap generasi muda dapat menyerap keteladanan tokoh sejarah dan tokoh sejarah dalam mempertahankan harga diri dan kehormatan bangsa serta mencintai keindahan ekspresi budaya Indonesia khususnya Toraja,” kata Produser Film Dokumenter Pongtiku, Belo Tarran.

Lebih lanjut Belo Tarran menjelaskan, bahwa film dokumenter Pongtiku ini ke depannya akan dikaji terus untuk dilakukan perbaikan-perbaiakan karena ini belum sempurna dan tentu berharap akan di garap dalam bentuk film panjang ungkap Belo Tarran yang juga Ketua KNPI Toraja Utara ini.

Senada dengan itu, Bupati Toraja Utara, Kalatiku Paembonan, yang hadir dalam lounching film dokumenter pahlawan nasional dari Toraja ini mengatakan bahwa dengan menampilkan film dokumen tertentang peristiwa kepahlawanan, secara tidak langsung juga mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran akan pentingnya sebuah makna sejarah sekaligus meningkatkan rasa nasionalisme.

“Ini juga dapat menghilangkan kesan masyarakat umum yang menilai sejarah hanya sebagai bagian dari masa lalu yang kurang mendapat perhatian. Sebaliknya, mereka akan termotivasi dan terinspirasi untuk membela tanah air,” tandas Bupati Toraja Utara.

Sementara Sutradara film Pongtiku, Jeanot Nahasan Nida mengungkapkan film Ini hasilnya tidak akan sempurna tetapi kami yakin ini adalah pintu masuk untuk membuat film Pongtiku yang lebih kolosal lagi.

Untuk diketahui bersama, film ini hadir berkat dukungan dari Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia.

Sekilas Tentang Pongtiku.

Pongtiku alias Ne’ Baso dilahirkan pada tahun 1846 di Pangala, Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Ia adalah putra Siambe Karaeng penguasa adat daerah Pangala dan sekitarnya. Tidak banyak yang diketahui mengenai kehidupan masa kecilnya. Pada masa remaja, ia sering diikutsertakan oleh ayahnya dalam pertemuan – pertemuan yang membicarakan masalah kemasyarakatan, seperti sengketa adat dan cara – cara penyelesaiannya.

Ketokohan Pong Tiku mulai kelihatan ketika terjadi konflik bersenjata antara negeri Baruppu dan negeri Pangala pada tahun 1880. Dalam konflik ini ia ditugasi oleh ayahnya yang sudah berusia lanjut, untuk memimpin lasykar Pangala.

Negeri Baruppu dapat dikuasainya dan dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaannya. Sejak itu, kepemimpinannya diakui oleh pemangku-pemangku adat lain di Tana Toraja. Dengan mereka, ia membina kerja sama untuk saling membantu.

Pong Tiku ditangkap di Lalikan pada tanggal 30 Juni 1907. Dari Lalikan ia dibawa ke Rantepao. Setelah ditahan dalam penjara selama sepuluh hari, penguasa Belanda menjatuhkan hukkuman mati bagi Pong Tiku. Ia ditembak di tepi sungai Sa’dan pada tanggal 10 Juli 1907.

Jenazahnya dibawa oleh pihak keluarga ke Pangala dan dimakamkan sesuai dengan tradisi masyarakat Toraja di liang Tangelo, Pangala. Lima puluh tiga tahun kemudian, bulan Desember 1960, Pemerintah daerah Sulawesi Selatan memindahkan jenazahnya ke Makam Pahlawan Tana Toraja.

Kemudian pada tahun 2002 Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi Pong Tiku gelar Pahlawan Nasional SK Presiden RI No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here