Halaman Tongkonan Menjadi Lapangan Sepakbola

238
0

UPDATEKAREBA.COM, TORAJA – Di Toraja Utara lapangan untuk bermain atau latihan sepak bola sangat minim atau boleh dikata tidak ada yang memenuhi syarat. Ini menjadi pe-er kita semua. Padahal potensi sumberdaya manusia Toraja boleh dikata tidak akan kekurangan. Dapat dilihat animo anak-anak sekolah tingkat SD dan SMP se Kabupaten Toraja Utara yang ikut dalam memeriahkan Bupati Cup II yang sedang berlangsung di tingkat kecamatan.

Sebagaimana diketahui bahwa pembinaan sejak usia dini sangat penting buat anak-anak Toraja untuk menggeluti persepakbolaan. Ada tiga fase atau tahapan dalam pembinaan sepakbola yaitu kelompok usia 5-9 tahun, usia 10-13 tahun dan usia 14-17 tahun. Masing-masing kelompok usia ini berbeda perlakuannya. Misalnya pada fase usia 5-9 tahun penekanannya pada pemberian pengertian yang benar atau tidak benar dalam berlatih bola dan pemberian tepat atau tidak tepat dalam menempatkan bola yang dilakukan seorang pelatih kepada pemain. Pada fase usia 10-13 tahun penekanan kemampuan (skill), riilnya adalah pengembangan usia ini tujuannya adalah kemampuan anak bagaimana bermain bagus, mempunyai talenta bermain bola sehingga hasilnya bagus, sedangkan pada fase usia 14-17 tahun adalah fase pengembangan permainan, kebersamaan dalam bermain membuat tercapainya harapan, anak sudah tahu bagaimana harus memenangkan pertandingan, bahkan materi yang sudah diberikan sudah ada capaian target.

Meskipun keterbatasan lapangan sepakbola namun di manapun anak bisa bermain bola, apakah di lapangan rumput atau di gang kecil, halaman sekolah, bahkan di halaman rumah Tongkonan. Seperti yang dicontohkan anak-anak SDN 1 Tikala di Kayurame dalam menghadapi Bupati Cup II tersebut selain melakukan tanding ke SDN 3 Kapala Pitu di Kalimbuang juga giat berlatih di halaman sekolahnya bahkan di halaman sebuah Tongkonan di Kayurame yaitu Tongkonan Sumpia’ (seperti gambar di atas).

Selain lapangan sepakbola yang masih minim juga Wasit dan Pelatih yang masih kurang yang bersertifikasi. Ini juga pe-er yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Jika pendanaan atau anggaran yang menjadi kendala maka partisipasi pihak ketiga sangat dibutuhkan dan juga subsidi silang atau beasiswa perlu juga didorong.

Untuk petugas kesehatan yang melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas setempat agar adanya pelatihan khusus dalam penanganan luka, lecet, atau yang lebih berat misalnya tidak sadar karena benturan bahkan patah tulang dalam permainan sepakbola.

Pembinaan pesepakbola sejak dini selain mempersiapkan generasi unggul, meningkatkan skill dan profesionalisme juga meningkatkan kesegaran dan kebugaran jasmani, sehingga peranan gizi turut mengambil bagian dalam pembinaan ini. Bahkan dorongan orangtua sangat perlu agar anak dapat berkonsentrasi dalam latihannya.(*)

 

(*) Siswanto Pabidang, praktisi kesehatan dan pemerhati sepakbola

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here