Jelang Pemilu 2019 ; RSUD Lakipadada Toraja Siapkan Pelayanan Sakit Jiwa

1687
0
Fasilitas rawat penyakit jiwa di RSUD Lakipadada Toraja.

Updatekareba.Com, Toraja – Layanan kesehatan mental di RSUD Lakipadada Tana Toraja kini lebih maju dibanding di rumah sakit daerah lainnya di Sulawesi Selatan.

Terbukti dengan diresmikannya pusat layanan kesehatan mental khusus di rumah sakit milik Pemkab Tana Toraja.

“Kami buka ruang prawatan ini sebagai bukti bahwa salah satu pilar pembangunan Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae yakni jangan biarkan rakyatku sakit, kita dukung dan laksanakan,” kata Direktur RSUD Lakipadad dr. Safari Mangopo, saat peresmian ruang rawat sakit jiwa ini, Selasa (9/4/2019) pagi.

Ruang rawat sakit jiwa milik RSUD Lakipadada merupakan salah satu dari dua RSUD yang ada di SulSel.

“Cuma dua RSUD di Sulsel yang ada bangsal jiwa, yakni Wajo dan Tana Toraja,” ujar dr. Safari Mangopo.

Fasilitas rawat inap sakit jiwa ini terdari empat kamar, dan juga disediakan layanan Poli untuk penyakit mental ini.

Sementara dokter specialis Penyakit Kejiwaan RSUD Lakipadada, dr. Kristanty, SpKJ, menjelaskan jumlah penyakit jiwa di Tana Toraja ini berjumlah 642 pasien termasuk pasien yang rawan jalan.

“Penyakit jiwa di daerah kita sangat tinggi, makanya kita programkan Tana Toraja bebas pasung sehingga perlu adanya fasilitas rawat inap khusus,” ungkap dr. Kristanty, SpKJ.

dr. Kristanty juga menjelaskan data ini merupakan hasil diagnosis gangguan jiwa yang mengikuti standar nasional dan internasional dari para pasien yang datang dan dirawat.

Masalah psikologi yang ditemukan dari para pasien adalah depresi, psikosomatis, trauma, gangguan panik, kecemasan, gangguan kepribadian, gangguan perilaku, skizofrenia, bipolar, gangguan emosi, gangguan mood, dan Narkotika.

“Mereka berkunjung ke kami atas kesadaran sendiri atau dibawa keluarga. Ada juga karena keluhan masyarakat dan dijemput petugas kesehatan untuk diperiksa di rumah singgah. Selain mendeteksi masalah, psikolog juga memberikan konseling kepada pasien,” ucap dr. Kristanty.

Fasilitas rawat penyakit jiwa di RSUD Lakipadada Toraja.

Pelayanan sakit jiwa dirumah sakit yang melayani pasien dari Sulawesi Barat ini gratis.

“Gratis dengan catatan ada kartu BPJS atau kartu KIS”, tambah dr. Kristanty.

Peresmian fasikitas kesehatan jiwa ini dilakukan menjelang pelaksanaan Pemilu 2019.

Fasilitas rawat penyakit jiwa di RSUD Lakipadada Toraja.

Prevalensi gangguan jiwa

Secara nasional, kesehatan jiwa masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai 1,7 per mil. Artinya, 1-2 orang dari 1.000 penduduk mengalami gangguan jiwa berat. Indikator kesehatan jiwa dalam Riskesdas 2013 adalah gangguan jiwa berat, gangguan mental emosional, serta cakupan pengobatannya.

Yang termasuk gangguan jiwa berat (psikotik) di antaranya skizofrenia. Sedangkan gangguan mental emosional mengindikasikan seseorang sedang mengalami perubahan psikologis yang dapat dialami semua orang pada keadaan tertentu. Bila segera ditangani dengan terapi yang tepat dapat pulih.

Gangguan ini dapat berlanjut menjadi gangguan yang lebih serius bila tidak berhasil diatasi. Gangguan mental emosional tidak berkembang menjadi lebih parah bila orang yang mengalaminya dapat mengobati pengobatan sedini mungkin di pusat pelayanan kesehatan.

Minim layanan kesehatan jiwa

Salah satu masalah mendasar dalam mengobati gangguan kesehatan jiwa adalah minimnya pelayanan dan fasilitas kesehatan jiwa di tingkat fasilitas primer di berbagai daerah. Jumlah tenaga profesional juga kurang. Penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa, tapi baru memiliki sekitar 451 psikolog klinis (0,15 per 100.000 penduduk), 773 psikiater (0,32 per 100.000 penduduk), dan perawat jiwa 6.500 orang (2 per 100.000 penduduk).

Padahal WHO menetapkan standarjumlah tenaga psikolog dan psikiater dengan jumlah penduduk adalah 1:30.000 orang. Bila dikonversi menjadi per 100.000 penduduk artinya 3,3 (dibulatkan mennjadi 3) per 100.000 penduduk. Dengan kata lain, untuk 250 juta penduduk Indonesia diperlukan 7.500 tenaga profesional layanan psikologi. Dengan jumlah psikolog klinis (451) dan psikiater (773), berdasarkan kepustakaan yang saya sitasi, maka Indonesia baru dapat memenuhi 16,3% dari total kebutuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here