Kasus Omicron di Indonesia Melonjak, Capai Lebih 400 Orang

271
0
Petugas kesehatan memegang botol berisi vaksin COVID-19 dari Sinovac saat pelaksanaan vaksinasi di Rumah Sakit Adam Malik, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (2/11/2021). Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) resmi memberikan izin penggunaan darurat atau Emergency Use Authorization (EUA) vaksin Coronavac dari Sinovac dan vaksin dari Bio Farma untuk vaksinasi kepada anak usia 6 -11 tahun. ANTARA FOTO/FRANSISCO CAROLIO/wsj.

Updatekareba.Com, Jakarta – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat penambahan total kasus konfirmasi Omicron hingga Sabtu (8/1/2022) ada penambahan sebanyak 75 orang. Jadi total secara keseluruhan sebanyak 414 orang.

Selama Desember 2021 kasus konfirmasi Omicron sebanyak 136 orang, sementara pada tahun 2022 hingga 8 Januari sebanyak 278 orang. Dari 414 orang, sebanyak 31 orang dengan kasus transmisi lokal dan sisanya merupakan pelaku perjalanan luar negeri.

Selain itu, kebanyakan dari yang terinfeksi Omicron adalah mereka yang sudah divaksinasi lengkap.

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes Siti Nadia Tarmidzi meminta masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan luar negeri jika tidak terlalu penting.

“Sebagian besar kasus Omicron berasal dari pelaku perjalanan luar negeri. Karena itu masyarakat diharapkan menunda dahulu jika ingin pergi ke luar negeri,” katanya, Minggu (9/1/2022).

Kasus penularan Omicron paling banyak berasal dari Turki dan Arab Saudi. Meski seseorang telah divaksinasi COVID-19 dua dosis, virus tersebut tetap bisa menginfeksi, artinya vaksinasi tidak menjamin seseorang terhindar dari virus COVID-19.

Nadia mengatakan, masyarakat Indonesia harus tetap waspada dan jangan sampai tertular. Wajib disiplin terapkan protokol kesehatan meski sudah divaksinasi, jangan sampai tertular dan menularkan. Omicron memiliki tingkat penularan yang jauh lebih cepat dibandingkan varian Delta.

Di Indonesia, pergerakan Omicron terus meningkat sejak pertama kali dikonfirmasi pada 16 Desember 2021. Kemenkes mendorong daerah untuk memperkuat kegiatan 3T (Testing, Tracing, Treatment), aktif melakukan pemantauan apabila ditemukan cluster-cluster baru COVID-19.

Kemudian dengan segera melaporkan dan berkoordinasi dengan pusat apabila ditemukan kasus konfirmasi Omicron di wilayahnya. Nadia mengingatkan untuk tidak boleh lengah dan jangan sampai terjadi gelombang ketiga di Indonesia.

“Jangan sampai apa yang terjadi di India terjadi juga di Indonesia, dimana dalam 10 hari terakhir terjadi kenaikan tren kasus dari enam ribuan menjadi 90 ribuan kasus konfirmasi omicron. Ini yang kita hindari,” kata Nadia.(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here