Kemen PPPA: Keluarga Garda Terdepan Cegah Radikalisasi dan Terorisme

142
0

Updatekareba.Com, Jakarta – Dalam upaya pencegahan munculnya paham radikalisme dan tindakan terorisme dibutuhkan sinergi dan komitmen pemerintah serta masyarakat untuk bergerak mencegah massif. Untuk itu Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menegaskan pentingnya

peran keluarga sebagai unit terkecil masyarakat sebagai garda terdepan dalam menghadang radikalisasi dan terorisme terinternalisasi dalam keluarga.

“Negara hadir dalam upaya meningkatkan kapasitas keluarga melalui layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) yang saat ini jumlahnya 189 PUSPAGA dengan psikolog yang tersebar di seluruh Indonesia. PUSPAGA memiliki fungsi layanan informasi maupun bimbingan kepada keluarga yang dapat membantu mengoptimalisasikan peran keluarga dalam mencegah tindakan radikalisme dan terorisme terhadap anak dan keluarga,” ujar Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kemen PPPA, Rohika Kurniadi dalam webinar Sosialisasi Pencegahan Anak dan Keluarga dari Paham Radikalisme dan Terorisme melalui PUSPAGA, Selasa (13/7/2021).

Rohika mengatakan, berbagai persoalan terkait perlindungan dan pemenuhan hak anak berawal dari keluarga dan akan mencerminkan bagaimana ke depan kualitas Bangsa dan Negara kita. “Kita sangat berharap, keluarga-keluarga di seluruh Indonesia akan menjadi lebih kuat dan tangguh dalam menghadapi tantangan radikalisasi dan terorisme, yang diawali dari mitigasi dalam pengasuhan anak berbasis hak anak,” ujarnya.

Terkait hal tersebut, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) R. Ahmad Nurwakhid mengatakan, akar masalah dari radikalisme dan terorisme adalah ideologi menyimpang yang berpotensi menyasar siapa saja tanpa mengenal agama maupun pekerjaan.

“Pola berawal dari potensi radikal yang berubah menjadi motivasi radikal jika dipicu oleh beberapa faktor di antaranya politisasi agama, pemahaman agama yang menyimpang, intoleransi, kemiskinan dan kebodohan. Faktor lain bisa juga dipicu oleh lingkungan dan media sosial sehingga dapat membentuk individu yang radikal-terorisme. Radikalisme dan terorisme dapat berpotensi pada seluruh manusia tidak mengenal agama, suku, bangsa, pekerjaan, maupun tingkat pendidikan,” jelas Ahmad Nurwakhid.

Sementara itu, Deputi Program Impak dan Kebijakan YSTC (Save The Children Indonesia), Tata Sudrajat mengatakan, timbulnya intoleransi, paham radikalisme, dan terorisme memiliki kaitan dengan bagaimana pola pengasuhan anak dalam keluarga.

“Tantangan pola pengasuhan anak dalam keluarga dapat dipengaruhi oleh bagaimana lingkungan dan pola pikir orangtua. Keluarga yang menganut intoleransi, paham radikalisme, dan terorisme cenderung memiliki pola asuh yang toxic parent dan memiliki risiko tinggi mudah terpapar paham radikalisme dan terorisme. Sedangkan keluarga seharusnya memiliki kelekatan aman dan menerapkan disiplin positif dalam pola pengasuhan pada anak. Disiplin positif dapat mencegah terpaparnya keluarga dari intoleransi, paham radikalisme, dan terorisme,” jelas Tata.

Lebih lanjut, Psikolog PUSPAGA Semanggi Kota Surabaya, Doni Mustofa berbagi praktik baik tentang bagaimana peran PUSPAGA dalam mencegah keluarga terpapar paham radikalisme dan terorisme. “Kegiatan PUSPAGA dimaksimalkan untuk psiko-edukasi dan memaksimalkan peran aktif sebagai pencegah dan bukan sebagai penanganan. Untuk pencegahan keluarga terpapar paham radikalisme dan terorisme kami melakukan serangkaian kegiatan sosialisasi baik melalui konseling online, konseling kelompok, penjangkauan, maupun podcast dan penggunaan media sosial,” imbuh Doni. (*/UK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here