Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku ; “Soal Sampah Jadi Prioritas Dalam Deklarasi Makassar”

320
0

Updatekareba.Com, Toraja – Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku, Dr. Ir.Darhamsyah, M.Si tampil memaparkan materi pada Lokakarya Solusi Sampah Nasional berjudul “Pengelolaan sampah kawasan menjadi prioritas utama solusi Sampah di Indonesia.”

“Sampah akan dikendalikan dengan 2 Strategi yakni pertama strategi Pengurangan dengan cara, Pembatasan Timbulan Sampah, Pendauran Ulang Sampah, Pemanfaatan Kembali Sampah. Strategi kedua adalah Strategi Penanganan dengan cara Pemilahan, Pengumpulan, Pengangkutan, Pengolahan, Pemrosesan Akhir.” Beber Darhamsyah.

Lokakarya bertempat di Gedung IPTEKS Universitas Hasanuddin. Mengambil tema “Mereduksi pencemaran sampah dengan konsep 3R Reduce, Reuse, Recyle.” Senin (17/2/2019) siang..

Narasumber lain dari Deputi IV Kemenko Bidang Maritim, Dr.Ir. Safri Burhanuddin, DEA mengangkat “Sinergitas lintas Kementerian dalam menanggulangi masalah sampah.”

Hadir pula Kasubdit Restorasi, Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr.Ir. Sapta Putra Ginting, M.Sc, Ph.D mengangkat “Sinergitas Regulasi sampah Indonesia dan Maritim Internasional dalam penanganan sampah laut,”.

Kemudian Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Abdul Kadir Damanik memaparkan “Bank sampah harus secara bersama melakukan aktifitas ekonomi melalui pendirian primer koperasi”.

Sementara Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mengangkat permasalahan “Peran penting Pemda dalam mendorong pelaksanaan pengelolaan sampah kawasan.”

Guru Besar Fakultas Ilmu kelautan dan Perikanan Unhas, Prof.Dr. Akbar Tahir,M.Sc, mengatakan Pelibatan Mahasiswa melalui program KKN dalam upaya reduksi sampah plastik ke lingkungan pesisir dan laut.

Lain halnya yang disampaikan Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia ADUPI, Cristine Halim, memaparkan “Peran Asosiasi dalam mendampingi pemerintah dan industri dalam menanggulangi masalah sampah plastik” serta Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation, mengulas “Kemandiririan Bank sampah menjadi tolak ukur utama keberhasilan tata kelola sampah”.

Permasalahan sampah merupakan barang yang dianggap sudah tidak terpakai dan dibuang oleh pemilik atau pengguna sebelumnya, dan belum memiliki nilai ekonomi ditambah dengan volume sampah semakin meningkat dari waktu ke waktu sehingga volume sampah yang masuk ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) menjadi salah satu penyebab terjadinya penumpukan sampah, malah seiring bertambahnya waktu dan pola konsumsi hal ini menjadi masalah krusial yang sangat sulit terselesaikan.

Menurut catatan (Nugroho 2013), ada sekitar 6000 ton sampah yang dihasilkan masyarakat setiap hari di kota-kota besar atau jika di rata ratakan berkisar 600-700 gram/orang/hari, serta data BPS memproyeksikan jumlah pertumbuhan penduduk pada tahun depan, 2020 sekitar 271,07 jiwa dari 238,52 juta jiwa pada tahun 2020.

Tata kelola sampah sekarang ini menuntut kita semua agar ditangani, dikendalikan secara sistematis.

Dibutuhkan suatu sistem pengelolaan dan pengolahan yang tepat, agar dampak negatif sampah terhadap lingkungan dapat ditekan seminimalisir.

Adapun Tata kelola sampah yang paling sederhana adalah dari lingkungan terkecil yakni keluarga, rumah tangga, lingkungan sekitar rumah lingkup RT/RW serta Mindset kita harus “diubah” yakni dengan memahami bahwa sampah seharusnya tidak diperlakukan seperti barang yang menjijikkan tetapi melihatnya sebagai Barang ekonomis.

Kita dapat menerapkan konsep 3R Reduce, Reuse , Recyle. Konsep ini sangat mudah diaplikasikan sepanjang mindset tentang sampah ini kita berubah.

Adapun makna dari 3R yakni Reduce, Reduksi sampah atau megurangi timbulan sampah, dengan jalan mencegah pembuangan sampah sembarangan baik oleh kita sendiri maupun pihak lainnya, Reuse, menggunakan kembali sampah atau bahan yang terbuang menjadi bahan yang berguna dan bermanfaat, Recyle, mendaur ulang kembali sampah atau bahan yang tidak berguna menjadi bahan lain yang berguna dan bernilai tambah.

Sistem pengelolaan dan pengolahan sangat diperlukan saat ini. Terutama sampah plastik yang dampaknya dapat mencemari perairan laut, sungai danau dan hal ini sangat membahayakan Ekosistem Sumber daya alam kita terutama sektor perikanan, dan hal ini menjadi tantangan berat yang membutuhkan upaya upaya keras secara sistematis dan komitmen dari seluruh masyarakat, sehingga sistem pengelolaan sampah dapat secara benar dan bernilai ekonomis.

Pertemuan ini menghasilkan rumusan tata kelola sampah dengan nama “Deklarasi Makassar” yang dilanjutkan dengan penandatangan kesepakatan bersama antar sektor dan pelibatan bersama kelompok-kelompok masyarakat serta merupakan Titik awal episentrum pengelolaan sampah nasional secara terpadu di Indonesia, khususnya di daerah Sulawesi Selatan.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here