Ketua AMPG Tana Toraja : “Kader Muda Golkar Perlu Teladani Akbar Tanjung”

473
0
Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Tana Toraja, Randan P Sampetoding (kiri) saat bertemu dengan Ketua Dewan Penasehat DPP Golkar, AkbarTanjung (kanan).

Updatekareba.Com, Toraja – Ketua Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) Tana Toraja, Randan P Sampetoding, bertemu khusus dengan Ketua Dewan Penasehat DPP Partai Golkar, Akbar Tanjung, beberapa waktu lalu.

Bagi Randan yabg juga Anggota DPRD Tana Toraja dari Fraksi Golkar dua periode ini, sosok Akbar Tanjung bisa jadi adalah tokoh fenomenal dan dikenal sebagai tokoh yang cepat melejit sedari masa mudanya. Ketokohannya dibangun melintasi tiga zaman perubahan, dari masa orde lama, orde baru dan reformasi. Manis pahitnya menjadi aktivis gerakan mahasiswa serta pergulatannya dalam kancah politik  nasional telah mematangkan dirinya sehingga dikenal piawai dalam memimpin maupun berpolitik.

“Pak Akbar Tanjung katakan ke saya Kepemimpinan itu harus diuji. Diuji melalui pengalaman dalam organisasi, pengalaman juga dalam politik, lalu baru untuk jabatan-jabatan puncak”, ujar Randan.

Randan juga menyampaikan Akbar Tanjung juga dikenal sebagai pribadi yang tenang, stabil secara emosi, namun cermat sekaligus tajam dalam berkalkulasi. Berbagai posisi dan jabatan dengan konsekuensi konflik, benturan, kritik bahkan cacian yang mengiringi, menjadikan mantan Ketua umum Partai Golkar ini matang secara politik sehingga disegani oleh kawan maupun lawan.

“Bagi Bang Akbar, demikian ia akrab disapa, anak muda sekarang tidak pantas banyak menuntut untuk menjadi pemimpin. Soal kepemimpinan, menurut ia tidak perlu dipertentangkan antara yang tua dan yang muda. Baginya, tidak relevan membicarakan usia dalam politik. “Dan tidak perlu diekspos berlebih-lebihan seolah anak-anak muda itu meminta,” ungkap Randan.

Menantu mantan Ketua DPD Golkar Tana Toraja Alm. MT. Allorerung yang juga dikenal dekat dengan Akbar Tanjung, mengungkapkan dalam petemuan bersama Akbar Tanjung juga disinggung soal kepemimpinan anak muda.

“Pak Akbar sampaikan dalam politik itu tidak relevan kita berbicara usia tua muda. Politik itu sejauhmana orang itu sudah teruji. Dan sudah mengalami, memiliki pengalaman yang cukup. Bisa saja orang itu sebetulnya masih muda. Tapi memiliki pengalaman yang cukup dan orang itu saya kira patut untuk menjadi pemimpin nasional kita. Misalkan saja dalam konteks kita, ada mantan aktivis, dia menyelesaikan sekolahnya kemudian mengambil S2. Masuk dalam politik mungkin dalam usia 30-an dia sudah menjadi anggota Dewan. Lima tahun anggota Dewan, umur sampai 40-an sudah pernah menjadi anggota Dewan. Apalagi seandainya dia misalnya dua kali menjadi anggota Dewan sehingga pada waktu usianya 40-an dia sudah matang secara politik,” ucap Randan, menirukan pesan Akbar Tanjung saat bertemu.

Randan pun menjelaskan sebagai kader Partai Golkar perlu meneladani Ketua Dewan Pertimbangan Akbar Tandjung yang mengikuti konsistensi langkah politik partai.

“Saya terkesan dengan sikap Akbar Tandjung. sikap Akbar Tandjung patut dicontoh oleh kader muda Golkar. Sikap Akbar menunjukkan bagaimana kepentingan partai lebih utama ketimbang kepentingan pribadi. Sehingga dengan demikian soliditas dan harga diri partai terselamatkan. Hal yang sama juga ditunjukkan Akbar Tandjung. Sering bermanuver, berseberangan dengan partai, tapi demi marwah partai ya ikut saja,” imbuhnya.

Bagi Randan, sosok Akbar Tandjung adalah sosok guru dalam berpolitik. Tidak seperti para politikus karbitan lainnya yang lebih cenderung mengarah pada kekuasaan semata, habis manis sepah dibuang. Tidak seperti Akbar Tandjung  yang selalu setia dan mengabdikan dirinya pada partai yang sempat terkedilkan pasca reformasi 1998 ini.

Politik memang sering di artikan sebagai dunia yang kejam, penuh dengan kemunafikan. Tak ada kawan yang sejati dan tak ada lawan yang abadi selain dari kepentingan. akan tetapi pandangan beliau tidak seperti itu. Seperti yang dikutip dalam buku “Jurnal Dan Gagasan Mengenang Nurcholis Majid” beliau mengatakan bahwa sesungguhnya Politik itu panggilan, pengabdian dan perjuangan, itulah sejatinya jiwa seorang pemimpin politik. (2010:18).

“Kesetiaan dan pandangan seperti inilah yang perlu menjadi contoh bagi politisi-politisi lainnya. Kesetiaan adalah penting dan menjadi kata kunci dalam setiap hubungan untuk tetap terjaga. Kesetiaan bukan berarti berserah diri semata, akan tetapi atas dasar setia kita dapat mengabdi dalam beribadah untuk senantiasa memberikan yang terbaik, terutama dalam berpolitik,” tutup Wakil ketua Pemuda & Olah raga DPD II Partai Golkar Tana Toraja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here