Komjen Pol. Dharma Pongrekun dalam Webinar ke-10 Gerakan Milenial Sangtorayan

415
0
Handover.

Updatekareba.Com, Toraja – Webinar Seri-10 kembali diselenggarakan oleh Gerakan Millenial Sangtorayan (GMS), dan menghadirkan narasumber salah satu putra terbaik Toraja yaitu Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun, MM.,MH (Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara/BSSN Republik Indonesia).

Turut hadir dalam webinar ini, dari berbagai kalangan mulai tokoh agama, pendidikan, politik, hukum, dan milenial Toraja se-Indonesia, bahkan dari luar negeri. Tercatat tidak kurang 100-an peserta hadir dalam webinar tersebut, belum lagi yang menyaksikan live streaming youtube pada channel GMS.

Dalam pembukaan webinar, Brikken Linde Bonting (Koordinator Gerakan Millenial Sangtorayan) menyampaikan, bahwa Gerakan Millenial Sangtorayan berdiri dengan tujuan untuk menghimpun, berkomunikasi, membangun spirit kebersamaan dengan siangga’, sikamali’, siangkaran, sipakaboro’ yang adalah falsafah luhur Toraja.

“Masa depan itu pasti! Kita percaya generasi-generasi kitalah yang akan menjadi pemilik dan pewaris mass depan,” tegas Brikken.

Persiapan menghadapi tatanan dunia baru, terlebih khusus pasca pandemi Covid-19 adalah keharusan bagi siapapun, terlebih khusus kaum milenial yang menjadi tulang punggung bangsa Indonesia. Untuk itu, webinar seri 10 ini mengangkat topik “Masa Depan Generasi Muda Indonesia dan Toraja (Post Millenial, Z dan Alpha) Menapak Tatanan Dunia Baru”.

Pemahaman serta penyesuaian baru harus dibangkitkan oleh kaum milenial Indonesia agar tidak tertinggal dan lenyap dalam arus globalisasi yang semakin menantang.

“Hadirnya narasumber Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun adalah sebuah kehormatan untuk berbagi ilmu dan pengetahuan guna mempersiapkan generasi muda Indonesia terlebih khusus generasi muda Toraja dalam mempersiapkan diri menghadapi tatanan dunia baru,” ungkap Alan Christian Singkali selaku moderator, dalam mengawali sesi.

“Kita Toraja, Jadilah Toraja Terbaik” judul dalam presentasi yang disampaikan oleh Komjen Pol. Drs. Dharma Pongrekun, MM.,MH. Judul materi ini tentu memiliki makna dan tujuan yang filosofis untuk Generasi Muda Toraja.

Mengenali diri sendiri, mengenali Indonesia dan mengenali dunia Global menjadi pengantar awal dalam paparan materi. Materi dipaparkan dengan apik oleh Komjen. Pol. Dharma Pongrekun guna memberikan pemahaman konkrit bagi seluruh peserta yang hadir.

Pak Dharma (sapaan akrab beliau) menyampaikan bahwa rekayasa tatanan dunia baru merupakan life engineering yang terstruktur, sistematis, massif dan sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.

“Mammon (uang) akan melarutkan setiap manusia bahkan generasi milenial saat ini hingga kehilangan nilai kehidupan spiritual,” ungkapnya lagi.

Webinar dilengkapi dengan banyaknya perspektif dari penanggap, antara lain Pdt. Henriette Lebang (mantan Ketum MPH PGI), Pdt. Soleman Allolinggi (Sekum BPS Gereja Toraja), Jacobus Mayongpadang (mantan anggota DPR RI), dr. Daniel Rantetondok (praktisi kesehatan), Jefri Makapedua (KAJARI Tana Toraja), dan lain-lain.

Pdt. Henriette Lebang turut menyampaikan bahwa dunia makin tidak tersekat lagi, boleh dikatakan seperti kampung yang tidak tersekat-sekat lagi. Tapi pada saat yang sama itu menguntungkan dan itu disebabkan oleh perkembangan teknologi komunikasi. “Itu menjadi berkat, namun bisa menjadi kutuk,” tegasnya.

Salah satu dampak perubahan jaman yang harus dilawan milenial adalah politik uang, hal ini disampaikan oleh Bung Kobu (sapaan akrab Jacobus Mayongpadang).

Selain penanggap, banyak juga pertanyaan yang dilemparkan oleh peserta kepada narasumber yang semakin menggali gagasan dalam pembahasan topik.

Perkembangan teknologi menuju tatanan dunia baru sungguh nyata di sekitar kita dan tanpa terasa kehidupan manusia sudah mulai di-reboot/restart. Kondisi ini semakin membuat manusia hanya mementingkan diri sendiri. Hal-hal ini menjadi masalah besar jika manusia terutama generasi muda terus terbiasa larut dalam sistem yang mengikat ini.

“Informasi yang kita terima di Indonesia 91% dari luar, jadi konten dalam negeri hanya 9 persen walaupun dalam bahasa Indonesia, tetapi sumbernya dari luar. Hoax dan propaganda ketakutan itu ada nilai materinya. Jadi, ada tim yang mengerjakan disebut dengan buzzer-buzzer untuk cari uang tanpa memperdulikan pertengkaran antar masyarakat maupun bangsa. Di sinilah jiwa sosial kita hilang dan kita menjadi individualis, kita hanya menyelamatkan diri kita demi kerakusan, demi memuaskan hawa nafsu kita,” ungkap jenderal bintang tiga tersebut.

“Hidup ini pilihan dan saat pandemi ini, kesempatan dari Tuhan untuk kita memilih apakah memilih protokol Tuhan kita sebagai penuntun atau malah memilih Mammon? Hidup ini adalah kesempatan bagi kita, kita banyak salah, tetapi jangan itu kita pelihara sepanjang hidup, ketika kita salah kita akui dan Tuhan sendiri yang akan memurnikan”, tutupnya dengan motivasi hidup.

Webinar seri-10 GMS ditutup dengan foto bersama melalui room zoom meeting yang dipandu oleh host Julneni Rante Kombongan.(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here