MASIHKAH PARIWISATA TORAJA MENJADI ANDALAN DI TENGAH PANDEMI COVID-19 (Dr. dr. SISWANTO PABIDANG, SH, MM)

327
0
DR.dr. Siswanto Pabidang, SH; MH. (Kanan)

Updatekareba.Com – Pandemi Covid-19 telah memporak-porandakan perekonomian dunia dan tentunya berpengaruh ke negara kita Indonesia.

Menurut Dirjen Pajak Kementerian Keuangan, Suryo Utomo, ada tiga dampak besar bagi perekonomian yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19, yaitu pertama, konsumsi rumah tangga atau daya beli yang merupakan penopang 60% terhadap ekonomi jatuh cukup dalam, dari 5.02% (kuartal I 2019) ke 2.84% (kuartal I 2020), kedua, menimbulkan ketidakpastian yang berkepanjangan sehingga investasi ikut melemah dan berimplikasi pada terhentinya usaha, dan dampak ketiga adalah seluruh dunia mengalami pelemahan ekonomi sehingga menyebabkan harga komoditas turun dan ekspor Indonesia ke beberapa negara terhenti (https://republika.co.id) Sektor Pariwisata juga tidak luput dari keterpurukan itu.

Menurut I Dewa Gde Sugihamretna
(https://bappenas.go.id) wabah Covid-19 memberikan dampak yang parah terhadap sektor pariwisata. Sebelum wabah, tahun 2019, pariwisata terus mengalami peningkatan.

Wisatawan internasional (international tourism) meningkat dari 892 juta orang menjadi 1.461 juta orang. Indikator kinerja lain menunjukkan nilai strategis dari pariwisata dunia tahun 2019 antara lain: pertumbuhan 4%; satu dari sepuluh lapangan kerja di dunia diisi pekerja dari sektor pariwisata; dan berkontribusi 79% dari ekspor global.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang di Tanah Air pada awal tahun 2020 mengalami penurunan. Selama Januari 2020, kunjungan wisman sebanyak 1.27 juta kunjungan, angka ini merosot 7.62% bila dibandingkan bulan Desember 2019 sebanyak 1.37 juta kunjungan.

Pandemi Covid-19 menyebabkan gangguan pada rantai pasokan global, dalam negeri,
volatilitas pasar keuangan, goncangan permintaan konsumen dan dampak negatif di sektor-sektor utama seperti perjalanan dan pariwisata.

Penurunan bisnis pariwisata dan perjalanan berdampak pada usaha UMKM dan terganggunya lapangan kerja. Selama ini pariwisata merupakan sektor padat karya yang menyerap lebih dari 13 juta pekerja.

Menurut Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) sekitar 80% usaha kecil dan menengah dari sektor pariwisata dengan jutaan mata pencaharian di seluruh dunia terkena dampak Covid-19.

KEBIJAKAN PEMERINTAH

Kebijakan Pemerintah dapat dilihat dari terbitnya SE Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor 2 Tahun 2020 Tentang Tindak Lanjut Himbauan Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), di mana disebutkan bahwa Dinas yang membidangi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif agar
berkonsultasi dan melaporkan perkembangan pelaksanaan antisipasi dalam penanganan
dampak penularan Covid-19 di wilayah kerja masing-masing kepada Ketua Gugus Tugas
Percepatan Penanganan Covid-19, sedang pada level provinsi agar memantau dan melaporkan dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di masing-masing daerah kepada Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui Ketua Manajemen Krisis Kepariwisataan (https://m.hukumonline.com)
Sumber utama keterpurukan ekonomi dan pariwisata adalah adanya pandemi Covid-19,
sehingga untuk menyelesaikannya dimulai dari pandemi Covid-19 itu dengan cara respon
bersama untuk menghambat penularan, memperkuat layanan kesehatan agar wabah Covid-19 cepat teratasi dengan cepat, meningkatkan kerjasama/koordinasi semua pihak serta segera melakukan pemulihan.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif,
Wishnutama Ketubandio, kunci keberhasilan dan membangkitkan kembali gairah pariwisata
pada situasi pandemi Covid-19 harus memperhatikan tiga aspek utama yaitu rasa aman, sehat, dan nyaman. Ketiga aspek itu menjadi tolok ukur kepercayaan para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara terhadap destinasi wisata di tengah pandemi (https://m.liputan6.com)

DAMPAK PANDEMI COVID-19 PADA SEKTOR PARIWISATA DI TORAJA DAN
PEMULIHANNYA

Pada acara Government RoundTable Series, “Covid-19: New, Next & Post” Episode-16:
Sulawesi Selatan: Motor Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (10 Agustus 2020), Bupati
Tana Toraja, Nicodemus Biringkanae, memaparkan bahwa dampak Covid-19 di sektorĀ  pariwisata Tana Toraja antara lain melemahnya kunjungan wisata yang berdampak pada penurunan PAD dari Rp. 41.842.000.000 (Maret-Juni 2019) menjadi Rp. 14.077.000.000 (Maret-Juni 2020), melemahnya pertumbuhan jasa pariwisata dan pelaku ekonomi, melemahnya penanganan dan pengolahan objek destinasi pariwisata, dan melemahnya daya dukung fasilitas dan akomodasi kepariwisataan.

Strategi pemulihan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Tana Toraja antara lain sosialisasi dan edukasi kepariwisataan dan protokol kesehatan, pemasaran dan promosi kepariwisataan, penguatan pelaku jasa kepariwisataan dan bantuan permodalan usaha industri
pariwisata dan mulainya pembukaan kunjungan wisatawan.

Untuk di Toraja Utara sendiri meskipun bukan narasumber dalam acara itu, namun apa yang
terjadi di Kabupaten Tana Toraja juga terjadi di Kabupaten Toraja Utara karena masyarakat
dunia tahunya sebagai pariwisata Toraja.

Beberapa berita menggambarkan situasi dampak pandemi Covid-19 terhadap sektor pariwisata,
seperti antara lain, “Akibat Covid-19, kunjungan wisata ke Toraja lesu”Total” (https://fajar.co.id)

TANTANGAN CALON BUPATI TORAJA UTARA DAN TANA TORAJA

Melihat uraian dari atas dan bila dihubungkan dengan judul maka tidak terelakkan keterpurukan
sektor pariwisata karena pengaruh pandemi Covid-19 di masa sekarang ini. Mungkin juga
pariwisata lagi “mati suri”, dia akan fit lagi bila ada sentuhan yang tepat, sehingga pariwisata
sebagai unggulan atau andalan masih tetap tak tergantikan.

Keterpurukan pariwisata khususnya yang dialami oleh kedua kabupaten bersaudara yaitu Toraja Utara dan Tana Toraja segera dicarikan solusinya oleh pemerintahan kedua kabupaten tersebut dan ini menjadi bahan berharga buat calon Bupati di kedua kabupaten tersebut.

Tantangan awal Bupati terpilih (2020) untuk pemulihan pariwisata di Toraja Utara dan Tana Toraja.

Masyarakat pemilih akan mencermati program pemulihan sektor pariwisata di masa kampanye dan debat yang ditawarkan para Calon Bupati tersebut.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here