Mengenal Alat Deteksi Lindu Buatan UGM

84
0
Handover.

Updatekareba.Com, Jakarta – Masyarakat yang tinggal di wilayah Gunungkidul Yogyakarta dikejutkan gempa berkekuatan 5,3 skala richter. Gempa yang terjadi Senin (28/6/2021) pukul 05.15 WIB menyebabkan sejumlah warga berhamburan keluar rumah.

Gempa memang kerap melanda Indonesia. Karena Indonesia dikenal berada di ring of fire atau cicin api. Karena berada di cincin api, gempa bumi bisa menimpa wilayah Indonesia setiap saat.

Menurut National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), cincin api merupakan serangkaian 850-1.000 gunung berapi yang membentang hampir 40.250 kilometer di sekitar Samudra Pasifik. Fenomena ini juga umum dikenal sebagai Cincin Api Pasifik (Pasific Ring of Fire).

Meski namanya cincin, tapi sebenarnya ring of fire berbentuk tapal kuda. Ia membentang dari ujung selatan Amerika Selatan, ke sepanjang pantai barat Amerika Utara, melintasi Selat Bering, turun melalui Jepang, Indonesia dan masuk ke Selandia Baru.

Untuk bisa mendeteksi sebelum terjadinya gempa, sejumlah peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) membuat sistem peringatan dini gempa. Alat ini bisa mendeteksi gempa sebelum kejadian.

“Pengalaman selama ini kami baru dapat memprediksi 3 hari sebelum gempa dengan lokasi antara Aceh hingga NTT. Algoritma awal kami hanya mendeteksi dini 3-7 hari sebelum gempa khusus untuk DIY. Mengingat stasiun pemantau kami hanya ada di DIY,” ujar Ketua Tim Peneliti Sistem Peringatan Dini (EWS) Gempa UGM Sunarno, awal Juni lalu.

Menurut Sunarno, alat yang kini dikembangkan sejak 2018 itu merupakan teknologi triangulasi agar dapat memprediksi posisi pusat gempa yang lebih presisi. Selama dalam proses riset dan pengembangan, alat ini mampu memprediksi kejadian gempa dengan tepat.

“Selalu cocok, sudah dipakai tesis mahasiswa saya. Bahkan lewat internet kita bisa bantu memberi peringatan sebelum kejadian gempa di antara Aceh hingga NTT,” kata dia.

Komponen EWS buatan UGM yaitu terdiri dari detektor untuk mendeteksi perubahan lever air tanah dan gas radon, pengkondisi sinyal, kontroler, serta sumber daya listrik dan penyimpan data. Alat EWS buatan UGM ini memanfaatkan teknologi Internet of Thing atau IoT.

Cara kerja alat ini berdasarkan perbedaan konsentrasi gas radon dan level air tanah yang merupakan anomali alam sebelum terjadinya gempa bumi. “Apabila akan terjadi gempa di lempengan, akan muncul fenomena paparan gas radon alam dari tanah meningkat secara signifikan. Demikian juga permukaan air tanah naik turun secara signifikan,” ujar Ketua tim riset Laboratorium Sistem Sensor dan Telekontrol Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM.

Sunarno mengaku, sejauh ini ada lima stasiun pantau EWS yang tersebar di DIY. Sistem peringatan dini gempa tersebut telah digunakan untuk memprediksi gempa, dan hanya membutuhkan waktu 5 detik untuk mengirim data ke server melalui IoT. Kelima stasiun pantau tersebut berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta atau DIY dan belum terpasang di daerah lain.

“Seandainya terpasang di antara Aceh hingga NTT kita dapat memperkirakan secara lebih baik, yakni dapat memprediksi lokasi lebih tepat,” kata Sunarno.

Saat ini Tim Peneliti Sistem Peringatan Dini (EWS) Gempa UGM akan terus mengembangkan alat tersebut hingga mampu memprediksi waktu, lokasi koordinat episentrum, dan magnitudo gempa secara tepat.

Selain itu, diharapkan dengan dikembangkannya alat deteksi gempa ini dapat membantu aparat dan masyarakat untuk mengevaluasi penyelamatan diri lebih cepat.

Alat ini juga diharapkan dapat direkomendasikan sebagai instrumen peringatan dini gempa bumi dan memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai prediksi gempa bumi sehingga selalu siap dan waspada terhadap bencana gempa bumi.(*/UK)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here