Narasi Sesat Penyebab Hepatitis Akut

148
0
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 pada seorang anak saat acara Wisata Vaksin COVID-19 untuk siswa TK dan SD di kawasan Sumber Wangi Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu (6/4/2022). Vaksinasi massal COVID-19 bagi siswa TK dan SD tersebut sebagai upaya percepatan vaksinasi dengan target pada perayaan Hari Raya Idu Fitri mendatang seluruh siswa TK dan SD di kota tersebut sudah mendapatkan vaksinasi lengkap sehingga ketika berkumpul dengan famili dari luar kota sudah memiliki kekebalan terhadap penularan COVID-19. ANTARA FOTO/Siswowidodo/aww.

UPDATEKAREBA.COM, JAKARTA – Ayu Poernamaningrum cemas. Beberapa waktu lalu saat ia berselancar di media sosial facebook, membaca sebuah unggahan tentang hepatitis akut yang sedang melanda beberapa negara, termasuk Indonesia.

Dalam unggahan itu, ia mengaku membaca komentar yang menyebut hepatitis akut disebabkan vaksin COVID-19. Komentar itu membuat ia kaget. Apalagi saat ini pandemi COVID-19 belum berakhir dan sekolah tatap muka sudah diberlakukan kembali.

“Terus terang panik banget, ini pandemi belum berakhir, ada lagi penyakit yang bikin anak kecil meninggal. Sedangkan anak diare atau demam hal biasa. Jadi untuk gejala awal, ibu-ibu nggak terlalu paham kalau itu penyakit hepatitis akut,” kata Ayu, Kamis (5/5/2022).

Kekhawatiran beralasan. Organisasi Kesehatan Dunia, WHO, juga menyatakan penyakit ini menjangkit sekitar 230 anak di 20 negara termasuk Indonesia. Sejak itu sejumlah misinformasi memang beredar di platform media sosial.

Banyaknya hoaks dan misinformasi ini pula yang membuat Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy khawatir. “Di medsos sudah berseliweran berita hoaks yang dikaitkan dengan vaksinasi anak. Kalau ini tidak segera dikelola, bisa jadi kontraproduktif,” kata Muhadjir, dikutip dari akun YouTube Kementerian Kesehatan, Jumat (6/5/2022).

Menurut Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), kelompok yang “mencetuskan dan mengonsumsi” misinformasi penyebab hepatitis akut ini adalah kalangan anti-vaksin. Kalangan anti vaksin ini ada dua kelompok: anti vaksin dan anti vaksin Barat.

“Mereka menggunakan informasi hepatitis sebagai bukti ini dampak buruk orang yang menerima vaksin COVID-19. Vaksin yang berbasis adenovirus dikaitkan dengan fenomena hepatitis akut,” kata Ketua Presidium Mafindo, Septiaji Eko Nugroho

Untuk kelompok anti vaksin dari negara Barat, menurut Septiaji, mereka ini bukan anti vaksin tapi anti vaksin yang diproduksi negara Barat. “Mereka percaya vaksin dari Cina. Nah mereka mengambil isu ini sebagai bukti ‘ngapain pakai vaksin berbasis adenovirus. Jangan mau divaksin dari Barat’.”

Salah satu yang disebut adalah vaksin Covid-19 yang menggunakan vektor adenovirus seperti AstraZeneca.

Agar serangan hoaks dan misinformasi ini tidak membanjiri media sosial, Septiaji meminta pemerintah segera membuat panduan yang memudahkan masyarakat. Ia khawatir jika pemerintah tidak memberi informasi yang massif tentang hepatitis akut ini, kejadiannya akan sama seperti saat COVID-19 pertama kali ditemukan di Indonesia.

Kala itu Indonesia menjadi negara nomor lima yang paling banyak penyebaran teori konspirasi COVID-19. Setidaknya ada 1.060 hoaks seputar virus Corona dalam rentang Januari 2020 hingga Juli 2021.

“Ini bisa jadi akan berulang kalau kita enggak belajar dari tahun 2020,” kata Septiaji.

Narasi Sesat 
Di Indonesia, hepatitis akut yang belum diketahui penyebabnya ini telah merenggut tiga nyawa anak. Kasus ini kabarnya juga bertambah. Namun untuk memastikan apakah mereka itu terkena hepatitis atau tidak saat ini masih dalam proses penyelidikan.

Masuknya kasus hepatitis akut ini dimanfaatkan sejumlah orang untuk menyebarkan berita salah tentang penyebab hepatitis akut ini. Mereka menyebut hepatitis akut ini merupakan efek dari vaksin COVID-19.

Tudingan itu segera dibantah. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kemunculan hepatitis akut berat pada anak tidak berkaitan dengan vaksin COVID-19. Selain itu, COVID-19 juga tidak menujukkan gejala hepatitis misterius.

“Karena sebagian besar justru belum divaksin, karena kebanyakan anak usia di bawah enam tahun,” kata Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Gastro-Hepatologi IDAI, Dr Muzal Kadim.

Sebelumnya, kasus hepatitis akut ini sudah merenggut 3 nyawa anak-anak dalam rentang 2 pekan hingga 30 April 2022. Ketiga anak tersebut meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

“Ketiga pasien ini merupakan rujukan dari rumah sakit yang berada di Jakarta Timur dan Jakarta Barat,” tulis Kemenkes dalam siaran pers, Selasa (3/5/2022).

Ketiga pasien tersebut masing-masing berusia dua tahun, delapan tahun, dan 11 tahun. Pasien yang berusia dua tahun belum memperoleh vaksinasi COVID-19 dan hepatitis A-E. Sedangkan pasien yang berusia delapan tahun sudah memperoleh vaksinasi COVID-19 dosis pertama dan 11 tahun telah memperoleh vaksinasi lengkap dua dosis. Ketiga pasien tersebut dilaporkan negatif Covid-19 berdasarkan pemeriksaan medis di rumah sakit. Ketiga pasien tiba di rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut.

Menurut Muzal, gejala yang ditemukan pada hepatitis akut tidak khas sebagai gejala COVID-19.

Hepatitis, kata Muzal, secara umum adalah peradangan hati atau infeksi yang disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya infeksi, autoimun, obat-obatan yang dikonsumsi, hingga iskemik atau kekurangan oksigen. Penyebab hepatitis anak paling banyak berasal dari infeksi, seperti virus, bakteri, jamur dan parasit. Virus yang masuk ke dalam tubuh tersebut akan menyerang sel hati dan menyebabkan hepatitis.

Kenali Gejalanya
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) pada kasus hepatitis akut yang menyerang anak-anak di Eropa, Amerika dan Asia dan belum diketahui penyebabnya sejak 15 April 2022.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastro Hepatologi RSCM FK UI, Prof. Dr. dr. Hanifah Oswari, Sp. A, menyebut dugaan awal hepatitis akut ini disebabkan oleh Adenovirus, SARS CoV-2, virus ABV dll. Virus tersebut utamanya menyerang saluran cerna dan saluran pernafasan.

Untuk mencegah risiko infeksi, Hanifah menyarankan agar orang tua meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan tindakan pencegahan. Langkah awal yang bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

“Jagalah kebersihan dengan cara mencuci tangan dengan sabun, memastikan makanan atau minuman yang dikonsumsi itu matang, tidak menggunakan alat-alat makan bersama dengan orang lain serta menghindari kontak anak-anak kita dari orang yang sakit agar anak-anak kita tetap sehat,” kata dia.

Selain itu, untuk mencegah penularan hepatitis akut melalui saluran pernafasan dengan menerapkan protokol kesehatan COVID-19 seperti memakai masker, menjaga jarak dan mengurangi mobilitas.

Upaya lainnya adalah pemahaman orang tua terhadap gejala awal penyakit Hepatitis Akut. Kata Hanifah, secara umum gejala awal penyakit hepatitis akut adalah mual, muntah, sakit perut, diare, kadang disertai demam ringan. Selanjutnya, gejala akan semakin berat seperti air kencing berwarna pekat seperti teh dan BAB berwarna putih pucat.

Jika anak mengalami gejala-gejala tersebut, orang tua diminta segera memeriksakan anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan diagnosis awal. Jangan menunggu hingga muncul gejala kuning bahkan sampai penurunan kesadaran. Karena kondisi tersebut menunjukkan bahwa infeksi hepatitis sudah sangat berat.(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here