PARIWISATA TORAJA BUTUH SENTUHAN AGAR BANGKIT LAGI USAI PANDEMI COVID-19

211
0
Siswanto Pabidang.

Updatekareba.Com, Toraja – Menarik sekali Tema yang diangkat IKAT JABODETABEK dan TORAJA TOURISM FORUM (TTF) dalam Focus Group Discussion (FGD) secara Zoom yang akan diadakan pada Minggu, 08 November 2020 dengan judul: Pariwisata Sebagai Penopang Kebangkitan Ekonomi Toraja di Era Baru dalam Perspektif Para Calon Kepala Daerah.

Selain menghadirkan enam (6) Pasangan Calon masing-masing tiga (3) Paslon dari Tana
Toraja dan Toraja Utara juga tiga (3).

Adapun para Paslon dari Tana Toraja adalah: 1). Theofilus Allorerung, SE/dr. Zadrak Tombeg, SpA, 2). Ir. Nicodemus Biringkanae/Victor Datuan Batara, SH, dan 3). Drs. Albertus Patarru, Ak, MM/Drs. Jhon Diplomasi, sedang Paslon dari Toraja Utara adalah: 1). Yosia Rinto Kadang, ST/Ir. Yonathan Pasodung, MT, 2). Yohanis Bassang, SE, MSi/Frederik V. Palimbong, ST, dan 3). Dr. Kalatiku PAEMBONAN, MSi/dr. Etha Rimba P. Tandipayung, MBA.

Panelis yaitu Dr. Henriette H. Lebang (DP PGI), Prof. Jonathan Para’pak (Rektor UPH), dan
Lily A. Salurapa (Anggota DPD RI dan Ketua IKAT JABODETABEK).

Selayang Pandang Pariwisata Toraja

Menurut Undang Undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan, yang dimaksud dengan pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata yang didukung oleh berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan masyarakat, pengusaha, Pemerintah dan Pemerintah Daerah.

Menurut IUOTO (International Union of Travel Organization), wisatawan adalah orang yang melakukan kunjungan selama lebih dari 24 jam di suatu tempat, dengan olahraga, agama, berlibur, belajar, kesehatan, dan berdagang.

Pariwisata Toraja sudah terkenal ke manca negara sejak puluhan tahun silam. Beberapa catatan pariwisata yang ditulis di Google adalah Ke’te Kesu’, Londa, Museum Ne’ Gandeng, Palawa’, Batutumonga, Kompleks Megalit Kalimbuang Bori’, Ranteallo, Air Terjun Kalean, Ollon, Lemo, Patung Yesus, Telaga Limbong, Negeri di Atas Awan Lempe dan To’ Tombi.

Sesungguhnya alam, budaya, adat, seni, dan kehidupan keseharian masyarakat Toraja penuh dan kaya akan aspek dan nilai yang bisa diangkat sebagai objek wisata.
Karena Pariwisata Toraja adalah sesungguhnya Kita Toraja secara keseluruhan maka sepatutnya bahwa kita bisa mengelolanya dengan sungguh-sungguh untuk menjadi peningkatan perekonomian masyarakatnya.

Pariwisata Toraja merupakan titik sentral dalam kegiatan perekonomian menuju kesejahteraan masyarakatnya, sehingga tidaklah berlebihan
bila dikatakan bahwa Pariwisata Toraja menjadi napas kegiatan yang akan menghidupi semua aktivitas masyarakatnya. Sebagai napas kegiatan maka Pariwisata Toraja menggerakkan semua sendi-sendi roda perekonomian.

Pemerintah Daerah Tana Toraja dan Toraja Utara berkewajiban melakukan tata kelola
kepariwisataan Toraja di wilayahnya masing-masing dengan profesional dan optimal. Sejauh
mana kebijakan dan dukungan diwujudkan dalam bentuk aturan yang bisa dipedomani dan
menjadi landasan berkegiatan tersebut.

Pariwisata di Era Pandemi Covid-19

Sebagaimana kita ketahui bahwa dengan adanya pandemi Covid-19, berdampak pada berbagai macam sektor industri, salah satunya adalah pariwisata. Oleh karena dampak pada sektor industri pariwisata maka mau tidak mau semua yang berhubungan dengan itu akan turut merasakan akibatnya seperti pada usaha penginapan, perhotelan, transportasi, pertunjukan, dan tour guide.

Bahkan pelaku seni dan budaya pun kena imbasnya seperti seni tari, pelukis, dan pemahat.

Belum lagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) termasuk industri souvenir
dan kuliner. Satu rangkaian lain dari dampak tersebut adalah maskapai penerbangan, hotel, restoran, dan agen perjalanan.

Dalam rapat terbatas secara virtual, Presiden Jokowi mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 akan membuka sebuah perubahan tentang tren pariwisata di dunia.

Di mana, isu health, hygiene, serta safety (dan) security akan menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan yang ingin melancong (www.wartaekonomi.co.id).

Kerugian Akibat Pandemi Covid-19
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 terkontraksi cukup dalam hingga
-5,32%. Jika kuartal III pertumbuhan ekonomi kembali terkontraksi, maka Indonesia dipastikan masuk jurang resesi.

Menurut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), hingga April 2020, total kerugian industri pariwisata Indonesia mencapai Rp 85,7 triliun. Ribuan hotel dan restoran terpaksa tutup, begitu pula dengan sejumlah maskapai penerbangan dan tour operator yang ikut alami kerugian.
(www.dw.com)

Berdasarkan data Organisasi Pariwisata Dunia (UNWTO) jumlah kunjungan wisatawan di seluruh dunia menurun 44 persen selama pandemi jika dibandingkan tahun lalu. Bahkan Bali yang merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun
mancanegara, masih harus menutup pintu untuk wisman hingga akhir tahun sebagai upaya menahan laju penyebaran virus corona di Tanah Air.

Pulau Dewata pun mencatat kerugian pariwisata Rp 9,7 triliun setiap bulan Pariwisata Berkelanjutan Dalam panduan UNWTO, bagi negara-negara yang pendapatannya melalui sektor pariwisata harus mulai mengembangkan visi pariwisata berkelanjutan (sustainables
tourism), yaitu pariwisata yang memperhitungkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan masa depan, memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan, dan masyarakat setempat. Memperhitungkan dampak di masa sekarang ini seperti adanya pandemi Covid-19 atau dampak lainnya.

Panduan UNWTO juga menganjurkan negara-negara saat ini untuk fokus kepada pasar turis
lokal hingga nantinya destinasi wisata siap sepenuhnya dibuka untuk pasar yang lebih besar yakni wisman. Apalagi dioperasionalkannya Bandara Buntu’ Kuni’ di Tana Toraja diharapkan akan mendongkrak kunjungan turis lokal dan suatu waktu kunjungan para wisman, karena pertimbangan jangka tempuh jauh lebih cepat dibandingkan dengan kendaraan darat, sehingga waktu istirahat cukup dan waktu kunjungan ke objek wisata semakin lama dan objek yang dikunjungi semakin banyak.

Perlu Sentuhan Stategi

Diperlukan sentuhan berupa strategi. Strategi yang bisa dilakukan pada saat ini antara lain:
(www.wartaekonomi.co.id)
1. Membuat branding strategi baru misalnya no worries of corona, enjoy your holiday;
2. Menggunakan media sosial untuk melakukan promosi secara gencar, misalnya lewat
Instagram dan Facebook;
3. Melakukan promosi safety and healthy of tourism ke turis internasional;
4. Mendukung pelaku/pegiat pariwisata dalam industri pariwisata misalnya pemerintah
dan bank memberikan relaksasi peminjaman bank, pengurangan biaya listrik serta
air, keringanan retribusi pajak pemda (pemerintah daerah);
5. Menguatkan SOP mitigasi pariwisata (wabah penyakit dan bencana alam). Indonesia
termasuk di dalamnya Toraja adalah daerah prone to disasters artinya kita dekat dengan keadaan bencana alam sewaktu-waktu seperti gunung berapi meletus
(Sumatera, Jawa, Bali), longsor, banjir, atau bencana nonalam seperti wabah pandemi virus Covid-19 ini;
6. Prioritas wisata ecotourisme (memadukan alam dan budaya) dibanding mass
tourism.

PR Bupati Terpilih

Buat para Paslon Tana Toraja dan Toraja Utara, siapapun yang terpilih nanti bahwa ada tiga hal yang harus diperhatikan yakni:
1. memperhatikan protokol kesehatan yang bersifat wajib atau mandatory dan menjaga
kebersihan lokasi wisata.
2. Menjaga keselamatan dan keamanan (sistem mitigasi diperkuat baik bencana alam
dan non-bencana alam seperti wabah penyakit).
3. Menjaga kenyamanan (hospitality), melakukan pembangunan infrastruktur dasar
misalnya jalan dan jembatan di tempat wisata.

PR (Pekerjaan Rumah) Bupati dan Wakil Bupati Terpilih nantinya sesegera mungkin menata
ulang pengelolaan pariwisata Toraja dengan melibatkan semua stakeholder.

Selain itu Bupati dan Wakil Bupati Tana Toraja dan Toraja Utara yang terpilih nanti pada Pilkada 9 Desember 2020 perlu memahami bahwa kita menuju ke new discourse of tourism serta diharap bisa memulihkan ekonomi pariwisata kita ke depan dengan tujuan akhirnya adalah kesejahteraan masyarakat sesuai impian bersama.(*)

(*) ; Dr. dr. SISWANTO PABIDANG, SH, MM (Founder PDkT Toraja Utara).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here