Peranan Perempuan Dan Kebangkitan Kristus

574
0
Handover

Updatekareba.Com – Tanggal 21 April 2019 bangsa kita merayakan Hari Kartini juga bertepatan dengan perayaan Paskah bagi Umat Nasrani.

Hari Kartini yang dirayakan setiap tanggal 21 April mengingatkan bangsa kita tentang masalah emansipasi wanita. Bangsa Indonesia membahas tentang proses pelepasan diri kaum perempuan dari kedudukan sosial ekonomi yang rendah dan dari pengekangan norma-norma dan hukum yang membahas tentang pengeluaran-pengeluaran untuk pengembangan dan untuk maju.

Apakah proses emansipasi wanita itu sudah berjalan dengan baik? Dalam beberapa segi, sudah! Namun dalam banyak segi yang lain masih jauh dari cukup.

Peranan kaum perempuan di dunia tengah, bangsa, masyarakat, keluarga dan gereja perlu mendapatkan perhatian. Tentu saja yang lebih perlu diperhatikan adalah perempuan itu sendiri.

Laki-laki memang harus memperhatikan hal ini dan memberi ruang bagi sesamanya, perempuan. Namun demikian, kesadaran perempuan tentang pentingnya peran perempuan serta kemauan untuk peran itu jauh lebih penting.

Deretan Majelis Gereja dari kaum perempuan.

Hari Kartini yang dirayakan bulan April tahun ini yang bertepatan dengan perayaan Kebangkitan Kristus. Peristiwa Kemunduran Kristus Itu Memantulkan Peran Bagi Perempuan Tentang Peran Perempuan.

Pagi-pagi benar pada hari Minggu, setelah matahari terbit di ufuk Timur, beberapa orang perempuan pergi ke kubur Yesus. Mereka adalah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome. Mereka butuh pelayanan terakhir terhadap mayat Yesus yang sempat tertunda karena hari Sabat. Sepagi mungkin setelah hari Sabat lewat, mereka berangkat dengan membawa rempah-rempah untuk meminyaki mayat Yesus.

Mengapa para perempuan Masih ada murid-murid yang lebih gagah perkasa? Hal ini memberi kesan dan pesan tertentu. Di dalam masyarakat patriakhal yang meminggirkan kaum perempuan, peran kaum perempuan diberikan-Nya tempat yang sentral.

Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome memberikan kesempatan pertama untuk mendengarkan warta menerima Kristus. Mereka pula yang pertama kali memberikan kepercayaan untuk mewartakannya.

Kaum perempuan yang menganggap lemah dan tersingkir membalikkan diangkat sebagai duta dan pewarta kabar baik, sedang lelaki yang dianggap kuat menentang digambarkan sebagai orang yang mula-mula tidak percaya atau ragu-ragu terhadap kabar baik itu.

Tiga perempuan itu, Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome adalah wakil perempuan-perempuan lainnya. Mereka diberi-Nya untuk mengambil peran karena cinta terima kasih kepada Tuhan Yesus.

Di dalam pelayanan Tuhan Yesus, para wanita yang sedang mempersiapkan keperluan-Nya. Pada saat Ia bergumul menghadapi kematian, seorang wanita yang datang mengurapi-Nya dengan minyak narwastu.

Para wanita juga yang berjuang dekat dengan-Nya kompilasi Ia dipaku di atas kayu salib. Mereka tidak pernah menyangkal Yesus, ditempatkan terus menyertai Yesus hingga Ia mati dan mayat-Nya diletakkan dalam lubang kubur. Setelah lewat hari Sabat, pagi-pagi benar mereka sudah datang ke kubur Yesus.

Ada satu hal yang mereka cemaskan. Kelemahan Fisik dan Tantangan Psikis Perempuan yang terjadi di dalam konstruksi budaya patriakhal membuat mereka tidak berdaya menghadapi kesulitan yang akan terjadi.

“Siapa di antara kita yang mampu menggulingkan batu kubur? Siapa yang mau melakukan untuk kita? ”, Kata mereka kepada yang lain. Kecemasan dan keluhan itu wajar, karena batu penutup lubang kubur sangat besar.

Apa yang mereka anggap sebagai tantangan yang Melawan Allah bagi mereka. Saat mereka dekat dengan kuburan, mereka melihat batu yang sangat besar itu terguling. Hal ini penting untuk dipertimbangkan.

Tidak sedikit dari kaum perempuan yang tidak maju tidak bisa maju, tetapi mereka takut maju kerena mata, hati dan pikirannya hanya tertuju pada “batu pilih kuburan”.

“Batu penutup kuburan” yang dipilih perempuan untuk berperanan bisa berupa opini masyarakat, norma-norma dan nilai-nilai budaya yang ketat, perasaan takut, atau kurang percaya diri.

Batu kuburan itu telah digulingkan oleh Allah. Lalu mereka melangka maju ke kubur Yesus. Mereka tidak menemukan mayat Yesus di sana, tetapi mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan dalam kubur itu.

Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Salome yang pertama mendengar berita menerima Kristus. Kepada perempuan di antara perempuan itu, Maria Magdalena, Tuhan Yesus mula-mula menampakkan diri setelah bangkit-Nya. Mereka pula yang mendapat kepercayaan untuk menjadi saksi perdamaian Kristus.

Proses pemanggilan untuk menjadi saksi memulai Kristus dimulai dengan penegasan Allah sendiri melalui malaikat-Nya, itulah Yesus telah bangkit. Namun penegasan itu tidak akan memungkinkan bila perempuan itu masih dikuasai oleh tantangan.

Oleh karena itu, “Jangan takut” adalah yang pertama dibutuhkan oleh orang yang mau menjadi saksi. Mereka yang takut, Tuhan beri hati yang berjuang. Dengan berani baru itu, mereka siap menerima kabar baik tentang Yesus telah bangkit dan siap menerima kemenangan Kristus.

Mereka menjadi saksi pertama yang memenangkan Kristus. Dengan berani mereka menyampaikan berita yang mengejutkan murid-murid laki-laki Yesus, yaitu Petrus dan teman-teman, seolah-olah tanpa batas gender yang mengungkung kehidupan sosial saat itu.

Lalu, bagaikan gelombang yang terus bergulung di dalam sejarah dunia, berita tentang Kristus yang terus menyebar semakin luas dan semakin jauh hingga masa kini.

Perempuan memegang peranan penting dalam kehidupan, kehidupan, kematian dan kemenangan Kristus. Tuhan Yesus tidak melepaskan perempuan, malah menyepelekannya.

Perempuan diberi tempat dan tanggung jawab yang tidak kalah penting dari laki-laki.

Di hadapan Allah, perempuan sepadan dengan laki-laki. Berhasil, tidak lebih rendah atau lebih tinggi. Adam dari tulang rusuk Adam sebagai “penolong yang sepadan” untuk Adam (Kej. 2:18, 21-22).

Memang ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan, misalnya perbedaan fisik, psikis dan karakter, tetapi sama-sama mahkluk yang dikasihi, dipahami, dipercayai dan dipedulikan Allah.

Kaum perempuan itu penting di hadapan Tuhan. Sama pentingnya dengan sesama mereka, laki-laki. Dalam banyak acara perempuan memegang peranan penting, diadakan di dalam acara lain Pentingnya perempuan bukan hanya masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa yang akan datang.

Dunia saat ini membutuhkan saksi. Bukan kaum lelaki saja yang Tuhan panggil, tetapi juga kaum perempuan. Menjadi representasi yang perlu diwujudkan dalam hidup, pewartaan, pelayanan, dan peran yang nyata.

Peranan wanita tidak hanya bersifat domestik, tetapi juga di gereja, masyarakat dan dunia.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here