PLTS Bikin Petani Panen Dua Kali

83
0

Updatekareba.Com, Jakarta – PLTS untuk irigasi menjadi salah satu apikasi teknologi solar rooftop yang sangat membantu para petani. Tidak memerlukan penyewaan lahan yang luas dan investasinya terjangkau.

Nurlela, salah seorang petani Tanjung Raja yang tengah menggarap lahan sawahnya sekarang mengaku bahagia. Sejak PLTS irigasi hadir di desanya, ia dan kawan-kawannya tak lagi bingung cari air.  “Terima kasih sekali, biasanya musim kemarau bingung mau kerja apa, sekarang bisa tanam padi lagi. Senang kami,” ungkapnya.

Ketua Kelompok Tani Sehati Desa Tanjung Raja, Muara Enim, Sumatra Selatan, Hopaini mengungkapkan bahwa sejak hadirnya PLTS irigasi berkapasitas 16,5 kilo Watt peak (kWp) di desanya yang beroperasi pada 2020, dalam kurun satu tahun terakhir petani Tanjung Raja telah dua kali memanen hasil sawahnya, dari yang biasanya hanya setahun sekali.

“Jadi kalau istilah dari Dinas Pertanian itu, IP200 (satu tahun dua kali panen), kita tingkatkan nanti sampai IP300. Target ke depannya dua tahun bisa sampai lima kali panen, kalau pengairan lancar dan memungkinkan,” ujar Hopaini, ditemui tim esdm.go.id di desa Tanjung Raja, Muara Enim (18/11/2021). Hopaini bersama beberapa warga juga bertanggung jawab atas maintenance sistem PLTS irigasi tersebut.

Ia menyebutkan, sebelum adanya PLTS irigasi, beberapa kali lahan mereka terancam gagal panen karena tidak menentunya musim. Pasalnya, akses ke sumber air yang terlampau sulit. “Meski terletak lumayan dekat dengan Sungai Enim, sawah warga dikelilingi perbukitan dan terhalang jalan raya dan stasiun kereta,” tutur Hopaini.

PLTS irigasi Desa Tanjung Raja adalah salah satu program CSR PT Bukit Asam. Pompa irigasi yang digunakan merupakan pompa jenis submersible yang memiliki kemampuan menyedot air yang mengandung lumpur. Kapasitas pompa tersebut adalah 30 liter/detik dengan head mencapai 30 meter.

Pompa tersebut digerakkan oleh listrik yang dihasilkan dari 60 panel PV polycrystaline berkapasitas masing-masing 275 Watt peak (Wp) yang berjajar menghiasi atap jembatan desa. Pompa menyedot air Sungai Enim sejauh 1 km ke bak intake berukuran 3x3x2 m3 yang kemudian didistribusikan ke sawah warga yang dimiliki oleh sekitar 100 orang petani.

Peletakan PLTS di jembatan ini membawa daya tarik tersendiri, sekarang menjadi icon kebanggaan warga desa Tanjung Raja. Selain tidak memakan lahan warga, lokasi ini juga dipilih untuk mendapatkan terik matahari terbaik sebagai sumber energi yang digunakan.

“PLTS untuk irigasi menjadi salah satu apikasi langsung teknologi solar rooftop yang sangat membantu para petani. Tidak memerlukan penyewaan lahan yang luas dan investasinya juga terjangkau. Dari sisi manfaat, ini memberikan dampak berkali lipat bagi pendapatan petani,” ungkap Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi, pada 23 November lalu.

 

PLTS Atap Berkembang

Perlu diketahui, pemerintah terus mendorong proyek pengembangan PLTS atap dengan sejumlah strategi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, pengembangan PLTS atap telah menyentuh 4.399 pelanggan dengan kapasitas 42,39 megawatt peak (MWp) hingga Oktober 2021.

Sepanjang Januari–September 2021, pengembangan PLTS atap menyentuh 17,88 MW. Sebagai perbandingan, realisasi kapasitas terpasang PLTS atap pada 2020 hanya sebesar 13,4 MW. Data Kementerian ESDM juga mencatat total kapasitas terpasang PLTS di Indonesia mencapai 194 MW per September 2021. Jumlah tersebut masih jauh dari potensi yang ada, yakni 3.294 GW.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Chrisnawan Anditya menerangkan, pemerintah terus membarui potensi pembangkit energi baru terbarukan (EBT) di dalam negeri untuk mempermudah upaya pengembangannya. Chrisnawan pada Asia Solar Forum, Indo EBTKE Conex 2021, 25 November lalu, memaparkan bahwa potensi energi surya tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Tiga wilayah dengan potensi pengembangan PLTS adalah Nusa Tenggara Timur 369,5 GWp, Riau dengan 290,41 GWp, dan Sumatra Selatan 285,18 GWp.

Secara tahunan, kapasitas terpasang pembangkit EBT mencapai 386 MW hingga kuartal III-2021, dengan didominasi oleh pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 130 MW, mini hidro 71,26 MW, pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) 55 MW, bioenergy 18,5 MW, dan 17,88 MW dari PLTS atap.

Di sisi lain, pemerintah membidik tiga strategi dalam pengembangan PLTS. Pertama, target kapasitas terpasang PLTS atap 3,61 GW hingga 2025. Kedua, pemasangan utilitas PLTS skala besar hingga 4,68 GW sampai 2030. Ketiga, pengembangan PLTS terapung hingga 26,65 GW di 271 lokasi.(sumber Indonesia.go.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here