Pola Baru Menuju Perguruan Tinggi

98
0
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyampaikan sambutan saat menghadiri peletakan batu pertama pembangunan gedung Universitas ST Bhinneka, Medan, Sumatera Utara, Kamis (25/8/2022). Universitas tersebut rencananya akan dikembangkan dengan mengusung konsep merdeka belajar yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu. ANTARA FOTO/Fransisco Carolio/WS/hp.

UPDATEKAREBA.COM, JAKARTA – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek (Mendikbudristek) meluncurkan gebrakan baru. Ke depan, para siswa lulusan SMA atau yang sederajat tidak ada tes pelajaran jika ingin masuk perguruan tinggi negeri. Selain itu, nantinya juga tidak akan ada lagi pembedaan jurusan IPA dan IPS.

Perubahan mendasar itu intinya mendorong siswa menguasai penalaran dan literasi daripada hanya menghabiskan waktu menghafal materi pelajaran.

Ada tiga jalur untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri: jalur prestasi, tes skolastik, dan seleksi mandiri oleh kampus masing-masing. Ketiga jalur memiliki perbedaan mendasar.

Seleksi melalui jalur prestasi akan fokus pada pencapaian siswa di seluruh mata pelajaran yang tertuang dalam buku rapor di SMA. Jalur ini menggantikan Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN).

Sesuai namanya, rapor akan menjadi rujukan utamanya. Dengan merujuk pada rapor, siswa didorong untuk mendapat nilai baik di seluruh mata pelajaran serta aspek minat dan bakat.

Pada jalur ini komponen rapor dan minat serta bakat akan mendapat komposisi 50:50. “Nantinya peserta didik diharapkan menyadari bahwa semua mata pelajaran adalah penting dan mereka bisa membangun prestasinya sesuai minat dan bakat,” kata Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek Dikti Nadiem Makarin di Jakarta, Rabu (7/8/2022).

Di jalur yang sebelumunya bernama Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) akan diganti dengan tes skolastik. Pada tes skolastik peserta seleksi hanya akan disodori tes kognitif, literasi dan penalaran beberapa mata pelajaran saja.

“Dalam seleksi ini, tidak ada lagi tes mata pelajaran, tetapi hanya tes skolastik yang mengukur empat hal yaitu potensi kognitif, penalaran matematika, literasi dalam bahasa Indonesia, dan literasi dalam bahasa Inggris,” ujar Mas Menteri Nadiem.

Aturan baru ini juga akan meringankan beban orang tua, karena tidak perlu mengirimkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar yang mahal. Guru juga tidak berada dalam tekanan untuk mendongkrak kemampuan siswa dan bisa fokus mengembangkan kemampuan nalar siswa serta mendalami kurikulum mereka.

Terakhir, seleksi melalui jalur mandiri. Seperti sebelumnya, seleksi ini akan digelar oleh masing-masing perguruan tinggi. Hanya, pemerintah meminta agar dalam seleksi jalur mandiri ini perguruan tinggi melakukannya secara transparan.

Sebelum seleksi mandiri digelar, Kementerian meminta PTN wajib mengumumkan jumlah calon mahasiswa di tiap fakultas dan program studi. Selain itu, PTN juga harus mengumumkan metode penilaian yang terdiri dari tes mandiri, tes kerja sama lewat konsorsium perguruan tinggi.

Yang tak kalah pentingnya adalah pengumuman besaran biaya yang dibebankan bagi calon mahasiswa yang lulus seleksi jalur mandiri.

“Sesudah pelaksanaan seleksi secara mandiri, PTN diwajibkan mengumumkan beberapa hal, antara lain jumlah peserta seleksi yang lulus seleksi dan sisa kuota yang belum terisi,” kata Nadiem.

Transparansi pada jalur mandiri ini sangat penting agar tidak ada lagi suap menyuap seperti yang terjadi di Univeritas Negeri Lampung. Di mana pada kasus ini KPK mencokok Rektor Unila karena diduga menerima suap untuk saat selesi jalur mandiri.(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here