PRAMUKA GRESIK KIRIM SURAT KE PRESIDEN AMERIKA UNTUK STOP EKSPOR SAMPAH KE INDONESIA, INI RESPONNYA

109
0
Handover.

Updatekareba.Com, Jakarta – _“…. I found a lot of plastic waste dumes along the river banks and at people’s front yards. When I look closes to the platic scraps, I read that it came from foreign countris such as United States, Canada, United Kingdom, Australia and many more. I feel so sad to know that my city became the dump sites for plastic wastes and polluting the air with toxic and smelly smoke.”_

Itu penggalan surat yang ditulis Aeshninna (Nina) Azzahra, pelajar dan anggota pramuka gugus depan yang berpangkalan di SMPN 12 Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Rumah Nina, di Wringinaom (Gresik selatan), tidak jauh dari lokasi pabrik kertas daur ulang di perbatasan Mojokerto dan Sidoarjo.

Surat yang ditulis pada 21 Januari 2020 tersebut ditujukan kepada Perdana Menteri (PM) Australia Mr Scott Morisson. Nina yang berusia 12 tahun, menjelaskan bahwa sampah plastik dari Negeri Kanguru itu mencemari lingkungan dan berdampak bagi kesehatan masyarakat Jawa Timur. Saya sangat berharap Australia, tulisnya, tidak mengirim sampah plastik ke Indonesia.

“Saya ingin Australia mengambilnya kembali.”

Dengan ditemani orang tuanya, Nina mengunjungi kantor Kedutaan Besar Australia di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan pada Selasa, 21 Januari 2020. Sayang dia tidak bisa bertemu dengan Duta Besar Australia.

Lewat kantor berita ABC, kantor Perdana Menteri Australia memberikan jawaban bahwa pemerintah telah melarang ekspor plastik, kaca, dan kertas sejak Juli 2019.

“Seperti halnya Nina, pemerintah Australia merasa menangani sampah adalah prioritas, karena jadi masalah penting bagi lingkungan di Australia dan di kawasan [Asia],” dalam pernyataan yang dikirim.

Kemudian Nina Azzahra berkunjung ke kantor Kedutaan Besar Jerman di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Dia menyerahkan surat yang sama untuk Kanselir Jerman Ms Angela Merkel.

Beruntung dia diterima Dubes Jerman untuk Indonesia, Peter Schoof. Nina menceritakan kunjungannya ke Desa Bangun, Mojokerto dimana sebagian besar mata pencaharian penduduknya mengelola sampah impor.

Dia juga mengunjungi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya dimana sampah kertas dari luar negeri dibawa oleh kapal dengan kontainer. Ternyata banyak sampah plastik yang disusupkan ke kontainer tersebut. Kejahatan semacam ini lolos dari pemeriksaan petugas pelabuhan.

Sampah dari Amerika Serikat, Australia dan Eropa, termasuk Jerman itu akhirnya diolah oleh warga Desa Bangun dan lainnya. Nina memperlihatkan kartu identitas seorang perempuan Jerman, dan kemasan minuman asal Negeri Bavaria yang ditemukan di antara tumpukan sampah di Desa Bangun.

Pak Dubes Peter Schoof mengucapkan terima kasih atas surat dari Nina. Mr Schoof berjanji . akan melakukan yang terbaik agar Nina mendapat jawaban terhadap pertanyaan dalam suratnya kepada Kanselir Jerman. Pak Dubes Jerman berharap dengan munculnya aktivis muda seperti Nina, “kesadaran masyarakat terkait masalah sampah plastik di masa depan dapat meningkat.”

Nina juga mengirim surat kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pramuka penggalang dari Kwarcab Kabupaten Gresik ini mengatakan sampah dari Amerika telah membuat sungai-sungai di Indonesia sangat kotor dan bau.

“Mengapa Tuan selalu mengekspor sampah ke negara saya? Mengapa Tuan tidak mengurus limbah itu sendiri? ” tanyanya kepada Pak Trump.

Kantor berita Reuters memperkirakan jumlah sampah yang diekspor ke Indonesia secara keseluruhan di tahun 2018 telah naik 141 persen, mencapai 283 ribu ton. Tahun lalu, kelompok aktivis lingkungan Indonesia Ecoton menuduh perusahaan Australia “menyelundupkan ” sejumlah besar limbah plastik dan kertas sebagai bahan daur ulang.

Limbah yang tidak dapat didaur ulang, seperti potongan plastik, dijual sebagai sumber bahan bakar murah untuk produsen tahu. Pada November 2019, aliansi peneliti [International Pollutants Elimination Network (IPEN), Arnika Association, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton), dan Nexus3 Foundation] mempublikasikan temuan mereka dengan sampel Desa Bangun dan Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Di desa ini ditemukan 16 jenis racun dari limbah plastik dalam telur ayam bukan ras (buras) yang dilepas di Tropodo dan Bangun.

Dalam laporan bertajuk Plastic Waste Poisons Indonesia’s Food Chain atau Limbah Plastik Meracuni Rantai Makanan Indonesia, disebutkan, sampah plastik yang berasal dari dalam dan luar negeri meracuni pembuatan tahu dan produksi telur di Indonesia. Sampah plastik yang menjadi bahan bakar dan timbunan itu meracuni sumber makanan seperti tahu dan telur.

Bahkan, asap dan abu plastik yang terbakar dapat menimbulkan konsekuensi racun, termasuk dioksin. Laporan tersebut juga menggarisbawahi adanya sampah impor yang berasal dari beberapa negara. Adapun lima besar negara yang mengekspor plastik ke Indonesia yaitu Australia, Jerman, Kepulauan Marshall, Belanda, dan Amerika Serikat (AS).
Sampah-sampah tersebut berakhir di beberapa tempat, seperti di Jawa Timur. “Negara-negara utara harus berhenti memperlakukan negara-negara di selatan sebagai tempat sampah mereka,” ucap salah satu peneliti dan penulis laporan, Yuyun Ismawati.

Nina Azzahra mengaku pernah membedah seekor ikan yang mati dan menemukan kandungan mikroplastik di perut ikan tersebut. “Saya merasa sedih mengetahui kota saya menjadi tempat pembuangan sampah plastik dari negara-negara maju,” tulisnya dalam bahasa Inggris.

“Tolong sampah-sampah Australia ada di Australia saja dan jangan kirim yang tidak bisa didaur ulang ke Indonesia, itu akan menambah masalah sampah plastik di negara kami,” tambahnya.

Kepada ABC Indonesia, Nina mengatakan perlunya kita khawatir soal perubahan iklim, dengan mencontohkan kebakaran hutan di Australia yang telah membunuh banyak koala. “Australia juga perlu menemukan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, tidak lagi menggunakan batu bara, mungkin tenaga matahari atau angin?” ujarnya.

Nina Azzahra Kilani mengaku telah melakukan sejumlah kegiatan dan pameran di sekolahnya, SMPN 12 Gresik, untuk meningkatkan kepedulian soal lingkungan kepada teman-temannya. “Saya ingin membuat teman-teman saya sadar tentang bahayanya plastik,” ujar Nina yang oleh DW Indonesia dijuluki sebagai Greta Thunberg-nya Indonesia. Nina memang sudah menerapkan sepuluh kebajikan di dalam Dasa Darma Pramuka, khususnya “cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.” (*)

(*) ; UNTUNG WIDYANTO/UWD

Sumber tulisan: www.abc.net.au/indonesian; dw_indonesia dan medcom.id
Sumber foto: Ecoton, Reuter, Antara, DW

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here