Putra Toraja Ini Jadi Keynote Speech Tentang Pengelolaan Laut

199
0
Handover.

Updatekareba.Com, Jakarta – Seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) perikanan dan masyarakat dunia harus berkolaborasi dalam pengelolaan laut mengingat masa depan pangan dunia ada dibidang perikanan laut karena pencemaran daratan sudah hampir melampaui daya dukung lingkungan.

Demikian kata Edward Tanari saat tampil sebagai keynote speech pada seminar “Japan-Indonesia on Sustainable Fisheries Workshop” yang diselenggarakan oleh OSSelnajaya pimpinan Satoshi Miyama.

Tampil bersama beberapa narasumber dari BPPT, KKP, PDSPKP, dan Mr. Utsunomiya Suisan serta Mr. Masashi Kigami dari Japan Fisheries Assosiation yang diselenggarakan di hotel Shalva, Rabu (18/12/2019) kemarin, Edward menyatakan bahwa sustainable mempunyai dua kata kunci; “kebutuhan” dan “keterbatasan”.

“Kita sadar akan kebutuhan saat ini tapi kita pun sadar keterbatasan teknologi dan organisasi sosial yang berhubungan dengan kapasitas lingkungan untuk mencukupi generasi sekarang dan mendatang,” kata Edward Tanari

Putra Toraja ini mengungkapkan disinilah pentingnya kerjasama dan kolaborasi itu dilakukan, jangan ada lagi ego sektoral dan atau negara yang hanya mementingkan masyarakat negaranya saja.

“Kita harus keluar dari sekat pemisah seperti ikan dan makhluk lain di laut yang tidak ber-KTP,” ungkap Politisi PDIP ini.

Mereka bebas berpindah, bisa tempat bertelur di tempat atau negara lain tapi tempat penangkapannya ditempat atau negara lain juga.

“Kita mesti menjaga agar tidak ada lagi pengrusakan terumbu karang, illegal fishing dan pencemaran laut yang membunuh ekosistem perairan”, tambah Edward.

Indonesia harus secepatnya membuat regulasi dibidang kelautan yang komprehensif, (tidak parsial), berkesimbungan dan berwawasan lingkungan disertai penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggarnya, karena hanya dengan demikian _sustainable fishing akan berlangsung sesuai dengan harapan.

Edward yang alumni pasca S2 Lingkungan Univ. Indonesia, mengapresiasi system penangkapan ikan Kinmedai di Jepang yang hanya menggunakan satu batang alat pancing sehingga tidak berdampak pada jenis ikan lain dan ekosistem serta tidak mengambil ikan ukuran yang kurang dari 300 gram per ekor.

Menurut Mr. Utsunomiya, penangkapan ikan Kinmedai di Jepang ditetapkan berdasarkan prefektur yang di bagi berdasarkan karakteristik ekosistem Kinmedai sehingga setiap pemanfaatan sumberdaya Kinmedai dilakukan secara berkelanjutan, seperti upaya perlindungan ikan ikan kecil dan induknya.

Workshop yang berlangsung sehari dan juga diinisiasi oleh LDII menghasilkan pokok-pokok pikiran yang mencerahkan peserta.

Mr. Maseshi yang mewakili Japan Fisheries Association menawarkan kerjasama pertukaran dan pendidikan bagi nelayan-nelayan Indonesia yang dapat juga bekerja di Jepang.

Sedang Mr. Utsunomiya menawarkan kapal perusahaannya untuk digunakan dalam riset kelautan dan mendata potensi perikanan laut Indonesia yang potensial dan memiliki nilai ekspor yang tinggi.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here