Sebuah Refleksi dan Pesan Peringatan 57 Tahun PPGT, “PPGT Duta Bangsa”

2265
0
Logo PPGT.

Updatekareba.Com, Toraja – Lima puluh tujuh tahun yang lalu, tahun 1962, PPGT berdiri sebagai sebuah Organisasi Intra Gereja
(OIG) pertama dalam lingkup Gereja Toraja, yang diputuskan pada Kongres I tahun 1965 di Rantepao.

PPGT yang bercirikan kegerejaan, kepemudaan dan kemasyarakatan, harus benar-benar menunjukkan cirinya. Ketiga hal ini merupakan paket yang terdapat dalam diri PPGT, baik sebagai organisasi maupun secara personal.

Dalam peringatan HUT ke 57 PPGT ini, tema yang diangkat adalah PPGT Duta Bangsa. Tema ini diangkat dengan harapan PPGT menjadi salah satu pionir dalam peran kebangsaan dan ke indonesiaan.

Lebih dari setengah abad telah kita lalui bersama. Tak ada alasan untuk tidak mensyukuri pertolongan dan tuntunan Tuhan. Ia telah menuntun kita sejauh ini, 57 tahun. Berbanggalah menjadi bagian dari persekutuan ini.

Umur ini bukan lagi umur yang muda. Namun, di sisi lain ada pertanyaan kritis yang akan
selalu jadi renungan bersama; sudah sejauh mana kita telah berperan, baik dalam gereja mupun dalam urusan kebangsaan, sebagai perwujudan dari panggilan peran kebangsaan kita?

Peringatan HUT PPGT mulai tahun ini akan diperingati secara khusus di setiap tanggal 11 Desember.

Hal ini sebagai wujud syukur kepada Tuhan; upaya membangun rasa memiliki pada PPGT serta bagian dari upaya membangun image organisasi.

Refleksi Historis PPGT bermula Seorang pemuda berkebangsan Belanda bernama Antonie Aris van de Loosdrecht bersama
istrinya telah relah meninggalkan zona nyamannya untuk memenuhi tugasnya memberitakan injil di Toraja. Ia baru berumur 32 tahun saat Sang Pencipta memanggilnya kembali lewat kematian yang tragis, tertombak oleh orang Toraja sendiri. Perjuangannya mesti pula menjadi perenungan kita sebagai PPGT, yang adalah juga lahir dari benih yang ia tabur yang kemudian kini tumbuh menjadi pohon.

Tidak hanya Anton, tapi banyak juga orang lain yang telah memberi dirinya untuk berjuang dalam pelayanan PPGT. Kita patut mengenang jasa para sosok yang telah berjuang untuk dan lewat persekutuan ini. Dedikasi mereka harus kita kenang dan jaga, sekaligus dijadikan sebagai spirit untuk bergerak ke arah yang semakin baik.

PPGT dan Keutuhan Bangsa
Masih hangat di telinga dan mata kita bagaimana Pemilu 2019, sebuah pesta demokrasi, menyisahkan banyak hal. Di satu sisi berhasil menghadirkan presiden dan wakil presiden, serta para anggota DPR RI, DPD dan DPRD, namun tidak dapat dipungkiri bahwa di sisi lain ada banyak jejak luka dan duka yang digoreskan.

Di beberapa lini terjadi kerusakan, baik secara fisik, hubungan sosial maupun hubungan dalam keagamaan. Pemilu yang diharapkan sebagai acara kegembiraan, justru menjadi sesuatu yang terkesan “menakutkan” bagi masyarakat luas.

Bagaimana tidak, momentum pemilu justru banyak memisahkan dan bahkan menambah sekat-sekat di antara kita sebagai sesama anak bangsa hanya karena perbedaan pilihan dan cara pandang politik.

Pada sisi lain, peran kita sebagai PPGT nampaknya belum terlalu nyata. Entah berapa banyak anggota PPGT yang menjadi apatis, kehilangan hak pilih karena persoalan domisili serta bahkan bukan tidak mungkin ada yang kemudian menjadi pemilih ilegal.

Ini harus jadi sebuah evaluasi
bersama untuk mewujudkan impian menjadi duta bangsa.Membangun jejaring dengan kelompok pemuda lainnya perlu diupayakan dan ditingkatkan, baik yang bercorak keagamaan maupun yang bukan. Nilai pancasila itulah yang akan mengikis sekat perbedaan kita.

Perbedaan bukanlah menjadi alasan untuk saling menolak atau bahkan saling membenci, tetapi perbedaan justru merekatkan hubungan demi menjaga keutuhan dan perdamaian di NKRI.

Kini pemilu telah usai, para orang pilihan telah mulai bekerja. Saatnya pula kita mulai bekerja.

Sebagai pemuda, kita mesti hadir sebagai mitra kritis pemerintah dan seluruh lembaga yang mengasuh bangsa ini. Kita harus mengambil peran merajut kembali tenun yang terkoyak serta ikut terlibat secara aktif merawat kebangsaan agar tetap utuh sebagaimana kita mengenalnya.

Saatnya PPGT mengatakan “kami ada”. Saatnya perubahan.

PPGT dan Pilkada 2020

Pilkada dan berbagai bentuk kontes politik tahun 2020 akan kita songsong di waktu yang akan datang. PPGT harus pula menunjukkan peran kepemudaannya sebagai generasi Kristus. Pesan kebenaran harus disampaikan.

Luka dan celah kerusakan harus diminimalisasi. Bahkan jika mungkin kita perlu menjadi bagian dari proses penting mewujudkan kontestasi politik yang bersih dan
bermartabat. Kita bisa melibatkan diri menjadi pemantau.

Bahkan bagi anggota yang terlibat
langsung dalam pencalonan atau tim sukses calon atau penyelenggara, harus punya keberanian dan komitmen melakukan proses secara jujur, adil dan demokratis serta jauh dari politik transaksional.

Sebagai calon pemilih, jangan jadi penikmat politik uang.

PPGT dan Revolusi Industri 4.0
Perubahan zaman terus terjadi. Sebagai pemuda kita tentu menyadari hal ini.

Apakah kita akan hanya jadi pengikut dan penikmat perubahan ataukah siapa mengambil peran dalam perubahan zaman.

Zaman akan terus bergerak dan tugas kita adalah bagaimana agar pergerakan zaman sejalan dengan firman Allah.

Perubahan di depan mata, kita tidak mungkin berdiam diri atau mengelak. Kita mesti terus
berbenah, baik sebagai organisasi maupun secara individu. Ibarat mesin, semua komponen harus bergerak agar mesin berfungsi dengan baik. Perkembangan teknologi perlu disambut dengan kematangan secara spiritualitas, agar harapan menjadi duta bangsa bisa benar terwujud.

Sebagai duta, PPGT perlu bertransformasi seiring dengan perkembangan zaman untuk dapat semakin menjangkau ladang pelayanan namun tetap mempertahankan komitmen untuk „tidak menjadi serupa dengan dunia ini’ (Roma 12:2).

Dalam menyongsong era industri 4.0 bahkan menuju era 5.0, kita harus mempersiapkan diri dengan cara menambah kapasitas kemampuan adaptasi akan teknologi sekaligus mempersiapkan diri dalam sisi akhlak agar teknologi tidak justru membuat kita jauh dari Allah.

PPGT sebagai duta bangsa adalah sebuah harapan, kritikan sekaligus tantangan; apakah kita hanya akan jadi penonton atau siap menjadi inisiator? Apakah kita akan jadi obat bagi masalah kebangsaan atau justru sebagai penyebab penyakit?

Mari renungkan dan bertindak bersama.

Akhirnya, dalam suasana natal, dengan terang kasih Sang Bayi Natal, kami selaku pengurus pusat PPGT mengajak kita semua mewujudkan panggilan kita sebagai sebagai pengikut Kristus yang berjiwa Indonesia dengan menjadi pelopor perdamaian dan menjadi duta bangsa. Mari nyatakan damai natal bagi
bangsa ini.

Selamat memperingati dan memaknai Dies Natalis ke 57 PPGT. Mari rayakan dies natalis PPGT dalam semangat keugaharian. Selamat Natal. Tuhan kiranya menuntun kita mengarungi lautan pelayanan kepemudaan. PPGT Jayalah!.(**)

(**) ; Pengurus Pusat PPGT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here