Sepeda Bambu, Ide Kreatif Desa Kandangan

121
0
Presiden Joko Widodo, tampak mengayuh salah satu produk Spedagi menuju panggung di Plaza Tenggara Kompleks Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat, Sabtu 12 Januari 2019. Foto: tangkapan layar instagram @spedagibamboobike.

Updatekareba.Com, Jakarta – Tiga orang terlihat asyik mengayuh sepeda. Mengenakan pakaian olah raga, mereka memacu sepedanya. Sesekali mereka berjajar, lalu ngobrol. Lalu masing masing memacu lagi. Menjajal medan datar, menanjak memasuki kawasan hutan bambu.

Sekilas, tak ada yang berbeda dengan sepeda yang mereka gunakan. Namun saat kita pelototi, ternyata ada hal unik dengan sepeda itu. Sepeda itu bukanlah sepeda berkerangka besi melainkan berkerangka bambu. Bambu? Ya bambu.

Sepeda itu bermerek Spedagi. Adalah Singgih Susilo Kartono yang menggagas pembuatan sepeda berbahan bambu itu. Ia bukan pemuda biasa. Dia adalah alumnus program desain Institut Teknologi Bandung (ITB).

Singgih bercerita, ide membuat sepeda berkerangka bambu berawal ketika dia menemukan foto sepeda bambu di internet yang dibuat oleh orang Amerika, Craig Calfee.

“Saya merasa tertampar karena sebagai seorang sarjana desain dan melihat di sekitar rumah banyak tumbuh bambu justru tidak melakukan apa-apa atas sumber daya yang melimpah itu,” kata dia.

Di desanya, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, pohon bambu memang melimpah. Para pemilik bambu itu biasanya menjual seharga Rp 50.000 perbatang. Sangat murah, memang.

Mulailah pada 2013 Singgih mencoba membuat sepeda berkerangka bambu. Tidak langsung jadi memang. Awalnya ia menggunakan bambu utuh. Diameter yang dipilih kecil namun kuat. Mirip seperti gagang sapu.

Sepeda generasi pertama itu terlihat besar, kasar, dan cukup sulit menyatukan karena diameter tidak selalu sama.

Tak putus asa, dia menjajal lagi. Kali ini ia beralih menggunakan bilah bambu. Dia pakai bambu petung yang terkenal kuat, besar, dan mudah didapat. Rangka bambu itu disambung dengan logam dan resin. Kali ini hasilnya lumayan.

Dari sebatang bambu petung usia dewasa, Singgih mampu membuat lima hingga tujuh kerangka sepeda. Sebuah lompatan nilai tambah dari bambu yang sering dianggap bahan alam biasa. “Bambu itu material masa depan,” kata Singgih.

Bambu yang semula dihargai murah, karena ide kreatif Singgih naik derajat. Setelah menjadi rakitan sepeda, kala itu, harganya minimal Rp 3,5 juta hingga Rp 60 juta.

Untuk mengerjakannya, ia menggunakan tenaga lokal di desanya. Pengerjaannya butuh waktu yang tak sebentar. Satu sepeda bambu perlu enam hari kerja karena sepeda itu dibuat dengan manual, bukan produksi massal.

Spedagi memiliki beberapa varian. Ada Spedagi Dwiguna (dual track) yang dirancang untuk bersepeda di jalan pedesaan maupun kota. Spedagi Dalanrata (road bike) khusus untuk jalan yang mulus. Spedagi Gowesmulyo (joy bike) untuk perkotaan dengan jarak pendek, dan Spedagi Rodacilik (minivelo) yang menggunakan ban berdiameter kecil yang juga cocok untuk jalan perkotaan.

Salah satu produk Spedagi buatan Singgih ini pernah dijajal Presiden Joko Widodo pada 12 Januari 2019.

Merek Spedagi merupakan akronim atau singkatan dari sepeda pagi. Penamaan itu tak lepas dari kebiasaan yang dilakukan Singgih saat di desa. Setiap pagi ia selalu bersepeda. Kadang ditemani sang istri, Tri Wahyuni, atau kerabat dekat. Mereka  bersepeda pagi menyusuri jalanan desa dengan bersepeda.

Kebiasaan bersepeda ini, kata dia setengah bercana, “gara-gara kolesterol.”

Sepeda bambu terasa nyaman dikendarai karena bambu sesungguhnya merupakan material penyerap getaran terbaik dibanding material besi, aluminium bahkan serat karbon. Kelemahan sekaligus keunggulan bambu adalah sifatnya yang lentur.

Keistimewaan lain sepeda bambu rancangan Singgih adalah ide pemanfaatan kearifan lokal atas bambu itu sendiri. Bambu sejak lama sebagai bahan pembuatan rumah di desa. Meski umur pakai bisa berbilang tahun lewat perlakuan yang tepat, namun kini bambu mulai ditinggalkan.

Karya Berbuah Penghargaan

Berkat kreativitasnya itu, pada 2017, Spedagi memperoleh Bronze Award dalam DFA–Design for Asia Awards– diselenggarakan di Hong Kong. Pada 2018, Spedagi memenangi Gold Award Good Design Jepang 2018. Spedagi terpilih dari hampir 4.500 entri dari seluruh dunia.

Sepeda bambu Singgih sudah menjalani serangkaian uji coba. Spedagi telah diperiksa Japan Vehicle Inspection Association (JVIA), dan uji kendara di Indonesia melewati Jakarta Madiun sejauh 750 km tanpa kerusakan. Setiap produk Singgih memberikan garansi selama dua tahun.

Penghargaan dan lolos uji di Jepang ini membuktikan, kualitas Spedagi diakui di negara yang dikenal memiliki standar tinggi untuk produk ini.

Pengakuan atas kualitas dan desain produk sepeda bambu buatan Indonesia ini beberapa kali datang dari ajang di luar negeri. Sejauh ini, karya Singgih sudah menembus pasar internasional.

Apa yang dilakukan Singgih sudah selayaknya menjadi inspirasi banyak orang untuk menggali potensi yang ada di wilayahnya. Apalagi saat ini pemerintah Joko Widodo sedang getol menggalakkan gerakan Bangga Buatan Indonesia (BBI).(**/UK)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here