The Power Of “Emak-Emak” Toraja Di Garap Caleg DPR RI Dari PDIP Ini.

598
0

Updatekareba.Com, Toraja – Pemilih ‘emak-emak’ atau ‘ibu bangsa’ di Toraja juga menjadi kekuatan tersendiri bagi calon legeslatif pada pemilu tanggal 17 April 2019 mendatang.

Hal ini pun dilakulan Caleg DPR RI asal partai PDIP daerah pemilihan SulSel III nomor urut tujuh, Paskaria Tombi, SH;MH.

Menurut Paskaria Tombi, pemilih perempuan jaman now atau istilah kerennya ‘emak-emak’ di Toraja harus memiliki perwakilan yang bisa memperjuangakan pembangunan, pemberdayaan, serta perlindungan pada perempuan di Toraja.

” suara emak-emak dalam kancah politik nasional tidak terlepas dari kesadaran partai politik atas bonus demografi populasi perempuan di Indonesia terlebih khusus Toraja,” ujar Paskaria Tombi.

Dalam setiap kampanye door to doornya di Toraja yang dilakukan politikus wanita Toraja ini terus memdapat simpati dari para “ibu bangsa” ini.

“Saya yakin dan percaya suara kaum perempuan di Toraja bisa disalurkan kepada caleg perempuan yang mempunyai niat memperjuangkan kamu perempuan Toraja di tingkat Nasional,” ungkap Paskaria Tombi.

Diliriknya suara emak-emak dalam kancah politik nasional tidak terlepas dari kesadaran partai politik atas bonus demografi populasi perempuan di Indonesia.

Berdasarkan proyeksi pertumbuhan penduduk Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan United Nations Population Fund jumlah penduduk Indonesia pada 2018 mencapai 265 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 131,88 juta jiwa berjenis kelamin perempuan. Selisih jumlah penduduk perempuan dengan laki-laki semakin menyempit.

Jika pada 2010 selisihnya mencapai 1,19 juta jiwa, diproyeksi pada 2035 hanya tinggal 266 ribu jiwa.

Bonus demografi populasi perempuan Indonesia ini memang patut diperhitungkan dalam kontestasi politik nasional, dimana satu suara sangat berharga untuk menentukan kemenangan kursi ke Parlemen.

Emak-emak menjadi influencer untuk meraih hati para pemilih.

Harus diakui, faktor emosional kadang mampu mempengaruhi dan mengubah pilihan rasional pemilih.

Selama ini sosok “emak” dianggap sebagai figur yang bisa dipercaya karena memiliki nilai kejujuran sehingga apa yang disampaikannya menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan, bahkan wajib diikuti oleh keluarga –suami, anak, cucu, kerabat, serta orang lain yang mencintai dan menghormati emak.

Inilah yang kemudian dikapitalisasi atau mungkin dipolitisasi oleh para aktor politik agar “the power of emak-emak” bisa dijadikan sebagai mesin pendulang suara.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here