Wabup Rinto Lakukan Trauma Healing 300 Lebih Pengungsi Wamena Di Tongkonan Jayapura

313
0
Wabup Toraja Utara Yosia Rinto Kadang (kedua dari kanan) bersama ibu - ibu pengungsi kerusuhan Wamena di Papua, Sabtu (5/10/2019).

Updatekareba.Com, Papua – Lebih dari 300 pengungsi asal Wamena, Kabupaten Jayawijaya ditampung sementara di Tongkonan (rumah adat Toraja), Kotaraja, Abepura, Kota Jayapura sejak Jumat (29/9/2019) lalu. Mereka mengungsi pascaaksi unjuk rasa berujung kerusuhan di Wamena pada Senin (23/9/2019).

“Dari yang kami data, jumlahnya ratusan, walaupun sebagian pengungsi dijemput oleh keluarganya, hingga kini pengungsi yang kami data sudah sekitar 900 pengungsi,” kata Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Toraja (IKT) Provinsi Papua, Yulius Palulungan di Jayapura, Selasa (1/10/2019).

Dari 900 pengungsi yang didata, kata Yulius, sebagian di antaranya dijemput oleh keluarganya. Hingga kini pengungsi yang masih ditampung di Tongkonan, Kotaraja, Abepura, Kota Jayapura ini sekitar 300 lebih pengungsi asal Wamena.

“Tiga ratusan pengungsi yang sementara di tampung di Tongkonan ini rata-rata penduduk di Wamena. Jumlah ini akan terus bertambah karena mereka terus berdatangan ke sini,” ujar Yulius.

Dia mengatakan pengungsi yang sementara ditampung di Tongkonan itu ada yang datang dengan baju di badan, tidak membawa pakaian di tangan karena terbakar dalam rumahnya.

“Ada yang ketakutan jadi lari dan tidak membawa bawa apa-apa lagi bahkan ada yang saking takutnya sehingga ketika sampai di sini mereka lari-lari, karena melihat banyak orang,” katanya.

Dengan kondisi demikian, ia memanggil guru-guru sekolah minggu untuk memberikan motivasi dan bercerita dengan anak-anak guna membantu membangkitkan semangat mereka kembali.

Yulius yang juga koordinator penanggulangan pengungsi dari Wamena di Tongkonan Kotaraja itu menambahkan pihaknya belum mendata secara detail anak-anak yang sekolah dan berapa umur anak-anak tersebut.

“Kami masih mendata secara umum, belum secara rinci artinya laki-laki dewasa berapa orang, perempuan berapa, dan juga umurnya. Anak-anak juga kami belum mendata secara detail balita berapa, anak-anak berapa, yang sudah sekolah berapa yang belum sekolah berapa,” ujarnya.

Aksi unjuk rasa berujung kerusuhan di Wamena, pada Senin, 23 September 2019 itu menyebabkan 33 orang meninggal dunia, baik warga pendatang maupun warga Papua. Pendemo juga merusak dan membakar ratusan bangunan milik pemerintah maupun swasta didaerah tersebut.

Sementara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toraja Utara dan Persatuan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) terus melakukan Trauma Healing kepada warga Toraja yang dievakuasi dari Kota Wamena, Provinsi Papua. Mereka ini merupakan korban atas tragedi kemanusiaan yang terjadi beberapa waktu lalu di Wamena

Proses evakuasi korban kerusuhan Wamena ke Sulsel juga telah berlangsung selama tiga hari, atau sejak Rabu 2 Oktober 2019 lalu. Untuk warga Sulsel sendiri, evakuasi pertama yakni sebanyak 50 orang, evakuasi kedua 16 orang dan evakuasi ke tiga ini sebanyak 15 orang.

Untuk para esksodus Wamena ini dibawa ke Asrama Haji Sudiang. Untuk sementara mereka ditempatkan di lokasi tersebut sembari menunggu pihak keluarga menjemputnya atau untuk diantar ke daerah asalnya masing-masing di Sulawesi Selatan.

Wakil Bupati Toraja Utara Yosia Rinto Kadang mengatakan, ada 300 orang pengungsi Wamena yang ditampung dia Tongkonan Jayapura. Mereka ingin kembali ke kampung halamannya dan akan kembali ke Wamena apabila situasi sudah aman dan kondusif. Olehnya itu, Wabup Rinto dan Ketua PMTI Fred Batong terlebih dahulu memberikan Trauma Healing.

“Kami membagikan makanan kepada para pengungsi, terutama anak anak balita yang masih membutuhkan susu dan makanan kecil. Selain itu, kita juga memberikan mainan kepada anak-anak dan terus berupaya agar rasa trauma yang dialaminya hilang secepatnya,” kata Yosia Rinto Kadang, yang juga Ketua Karang Taruna Toraja Utara.

Kedatangan Rinto dan Ketua PMTI ini membuat para eksodus asal Toraja ini nampak bahagia. Anak-anak nampak juga terlihat gembira ketika diberikan mainan.

“Ada beberapa cara untuk lakukan Trauma Healing seperti bermain, bernyanyi dan tertawa bersama. Cara ini bisa membantu mengalihkan fokus anak dari situasi tidak kondusif menjadi menerima situasi yang sedang ia hadapi saat ini,” ungkap Rinto.

Sementara itu, warga Toraja yang berada di Wamena, secara bertahap telah tiba di Toraja.

Data yang di peroleh dari petugas Posko Sentuhan Peduli Sesama yang di buat oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Toraja, menyebutkan sudah ada 40 jiwa yang telah tiba di Toraja.

“Untuk Jumat 4 Oktober 2019, sore ini, sudah ada 40 orang yang sampai di Tana Toraja. Untuk sementara mereka ditempatkan di posko dan kemudian dibawa ke rumah masing-masing,” kata Kasat Lantas Polres Tator, AKP A Tanri Abeng.

Dan tentu saja, kejadian kerusuhan di Wamena masih meninggalkan trauma mendalam bagi mereka yang mengalaminya secara langsung, baik bagi orang dewasa, maupun pada anak-anak yang kondisi emosionalnya belum stabil.

Sebagai bentuk kepedulian dan rasa simpati yang mendalam, sehingga Polres Tana Toraja juga libatkan personel Polwan untuk kembali melakukan Trauma Healing bagi pengungsi khususnya bagi anak anak dari pengungsi.

“Agar para korban bisa melanjutkan kehidupannya secara normal tanpa dihantui rasa takut maka trauma itu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Oleh karena itu, polwan-polwan cantik Polres Tator di arahkan oleh pimpinan untuk melakukan trauma healing atau pemulihan trauma pasca kejadian,” bebernya.

Malam tadi sebanyak 16 warga Toraja korban kerusuhan Wamena tiba di Pelabuhan Soekarno Hatta Makassar, Jum’at (4/10/2019).

Tim asesmen PMI KSR Yapma Arni mengatakan para korba kerusuhan Wamena tiba di Makassar menggunakan kapal air kemudain di unsikan asrama haji sudiang.

“Korban wamena tiba di pelabuhan soekarna dan mengungsi di asrama haji,” katanya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here