WEBINAR PDkT TORAJA GELIAT PARIWISATA TORAJA DI ERA PASCA COVID-19 (1)

234
0

UPDATEKAREBA.COM, TORAJA – Seiring dengan meredanya Covid-19 nampaknya kegiatan pariwisata mulai memperlihatkan tanda-tanda kehidupan setelah lama kepariwisataan itu tertidur. Situasi ini menarik perhatian PDkT (Pojok Diskusi Tondokta) Toraja untuk mengadakan Webinar via Zoom, menurut founder PDkT Toraja, Dr. dr. Siswanto Pabidang, SH, MM sangat perlu mendiskusikan dalam forum online dengan satu tema sekaligus judul yaitu Geliat Pariwisata Toraja di Era Pasca Covid-19. Webinar ini diselenggarakan memperingati bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Toraja Utara keempatbelas tanggal 21 Juli juga memperingati hari ulang tahun PDkT kedua tanggal 17 Juli.

Ada dua narasumber yaitu Ir. Henry Arie Pongrekun sebagai Associate Director SIAMEX dan Tourism Planner dengan judul Toraja Harus Memiliki Integrated Tourism Master Plan/ITMP (Blue Print) Untuk Mengembangkan Kawasan Strategis Pariwisata Toraja Yang Sustainable. dan Richard Parantean SE, M.Si sebagai Founder Pasa’ Salasa dan Perpustakaan Online GET dengan judul Strategi Kabupaten Torama (nama kiasan) Menggenjot Pariwisata Pasca Covid-19.

Menurut Arie bahwa bangkitnya pariwisata Toraja tahun 1974 terpicu ketika Puang Sangalla’ dirambu solo’ tahun 1972, pada waktu itu banyak wartawan dan arkeolog luar negeri yang datang dan memviralkan tentang Toraja. Pariwisata di Toraja, baru booming tahun 80-an. Dari observasi yang dilakukannya diperkirakan maksimum wisatawan mancanegara tahun itu berkisar 80 ribuan sedang wisatawan Nusantara berkisar dua kalinya.

Daya tarik wisatawan di seluruh dunia datang ke Toraja adalah karena virginitas pariwisata Toraja seperti ada mayat yang bisa berjalan dan jika orang Toraja meninggal tidak dimakamkan di tanah tapi di bukit-bukit/gunung batu yang dilobangi.

Arie berpendapat bahwa di masa pandemi Covid-19 tidak ada pergerakan pariwisata dan memasuki pasca pandemi dunia bertanya apa yang akan terjadi dengan dunia pariwisata. Perubahan ke depan merupakan tersetup atau tersetting berdasarkan kejadian dunia terutama tentang hygiene di mana faktor kebersihan merupakan faktor major dalam pariwisata. Pertanyaannya adalah pariwisata kita ini mau diapakan supaya dia bisa kembali menggeliat.

ITMP/Blue Print yang dirancang Arie merupakan jawaban buat pariwisata Toraja, dimana manfaat ITMP terhadap pengembangan destinasi antara lain dapat meyakinkan pemerintah pusat untuk memasukkan Toraja dalam kategori ‘super prioritas’, dapat menghitung income dari sektor pariwisata, dan dapat mengontrol level sustainable dan kearifan lokal.

 

Lanjut Arie, untuk penentuan lingkup kawasan strategis perencanaan blue print dengan mengupayakan daerah Toraja menjadi satu kawasan strategis pariwisata Toraja yang lebih luas dan memiliki skala ekonomi yang lebih besar. Ketiga daerah Toraja yang dimaksud adalah Tana Toraja, Toraja Utara dan Toraja Mamasa bila digabungkan luasnya menjadi 6.211,65 km² lebih luas dibanding Bali (5.780,06 km²).

Narasumber kedua Richard memberi ilustrasi tentang sebuah kabupaten yang bernama Kabupaten Torama dimana Bupatinya harus sadar bahwa layanan prima berbasis digital sangat penting buat masyarakat karena semua info bisa diakses dan berada di tangan setiap orang. Selain itu dengan adanya bandara maka ekosistem pariwisata yang dihadirkan perlunya inovasi dengan komponen 3 A (Atraksi, Aksesibilitas dan Amenitas) yang diimplementasikan di bandara dalam bentuk pusat informasi dan pertunjukan tarian penyambutan datangnya wisatawan di bandara.

Promosi dan referensi sangat penting di era pasca Covid-19, hal ini menurut Richard, membangun image positif kepada para wisatawan yang hadir oleh stakeholder. Referensi dari mereka yang punya pengalaman berkunjung ke kabupaten ini menjadi tugas jajaran Bupati dan untuk aktif berkoordinasi dan berkonsultasi dengan para influence termasuk diaspora. Richard juga memberikan advis agar aktif melakukan konsultasi, kemandirian, mengembangkan kepemimpinan empatik, humanis, peduli dan penerapan CHSE (Clean Health Safety Environment).

Richard memberikan solusi pull strategy bukan push strategy karena pull strategy membawa konsumen ke produk. Dalam hal ini Bupati memperluas jaringan sehingga dengan mudah mengundang atau mendatangkan sumber daya bahkan dana untuk menunjang ekosistem di daerahnya. Akhirnya Richard memberikan contoh growth mindset (pola pikir yang terus bertumbuh) yaitu: 1). Daripada berpikir sulit sekali, lebih baik berpikir ini mungkin butuh waktu dan usaha yang lebih, 2). Daripada berpikir aku tak bisa lebih baik lagi, lebih baik berpikir aku yakin bisa bertambah baik, jadi aku terus usaha, 3). Daripada aku berpikir salah, lebih baik berpikir kesalahan membantuku belajar lebih baik, 4). Daripada berpikir ini sudah cukup baik, lebih baik berpikir apa ini yang terbaik yang bisa saya lakukan, dan 5). Daripada berpikir rencana A tidak berhasil, lebih baik berpikir untungnya masih ada rencana B hingga Z.

Kegiatan webinar ini dibuka dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia dilanjutkan doa pembuka dan penutup oleh Pdt. Dwipo dengan pokok-pokok doa bagi bangsa dan negara, hari jadi Toraja Utara, HUT PDkT Toraja dan semua peserta dan narasumber (dilanjutkan ke Bagian II Pendapat Para Pemerhati Pariwisata Toraja).(*/UK)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here